Semua mata tertuju pada ku, yang sedang berdiri diatas panggung ternama,
panggung itu ku sebut ternama karena sebelumnya aku belum pernah berdiri
seperti ini dan dalam posisi sekarang. Aku hampir mimpi, beberapa kali aku
cubit tangan ku. Aku menang dalam lomba menulis cerpen bertema kepahlawanan.
Tak pernah ku sangka sebelumnya, kembali aku berfikir bahwa ini hanya mimpi.
Aku juga mendapat hadiah yang yang lebih dari cukup. Sebuah ipad, uang
tunai, piala, piagam, dan tiga buah novel yang ingin ku miliki sebelumnya,
karya Ahmad Fuadi.
Ibu yang berdiri disebelahku terlihat berkaca-kaca, mungkin ia terharu
melihat anak nya yang nakal kini bisa sedikit membanggakannya. Piala ini ku
hadiahkan untuk ayah, yang seminggu lagi berulang tahun. Mudah-mudahan ayah
suka.
Bertahun-tahun ku coba mengirimkan puisi dan cerpen ku ke beberapa
perlombaan dan surat
kabar, tapi belum pernah ku lihat nama ku terdaftar di goresan nama pemenang.
Bahkan kekecewaan sudah kebal bagi ku. Ada
seorang teman yang terus membongkar dan memperbaharui semangat ku, namanya
Nabil, ya Muhammad Nabil. Hampir sama seperti nama ku, Ananda Nabil.
Teman-teman sering memanggil kami Duo Nabil.
Walau aku dan dia berbeda, aku suka fiksi dan dia lebih suka non fiksi.
Tak jarang kami saling memuji satu sama lain, bahkan saling mengejek.
“Tulisan apaan kayak gitu, bahasa perut buncit semua,,” ejek ku pada nya.
“Yee, sewot bro,,,! Timbang bahasa planet gitu,,,” balasnya.
Hampir setiap hari, artikel nya mampang di lembaran surat kabar. Bukan hanya itu saja, bahkan ada
beberapa penerbit yang menawarkan kerja sama dengan nya.. Tapi dia menolak,
katanya ia belum pantas menjadi penulis yang dikenal banyak orang. Padahal
menurutku, mutu nya sudah kelas atas. Itu yang ku suka dari nya, pintar dan
tidak meninggi.
Aku dan Nabil satu kelas, bahkan sering duduk berdekatan. Nabil adalah
teman yang baik, tidak pelit, supel, dan bersahabat. Dia juga pintar menempatkan
diri, hanya saja ketampanan nya kalah dengan ku.(heheheh)
Kembali aku berteman dengan note
book ku, malam ini aku sampaikan
pada bintang kabar rumah yang telah menampung ku selama 19 tahun. Rumah yang
menjadi tempat mengabdi ku kelak. Rumah yang hijau, dengan hutan yang menjadi
andalan dunia untuk mereka bernafas. Rumah yang saat ini berperut buncit, ramai
tikus-tikus nakal dengan kebijakan irrasional. Rumah yang katanya merakyat,
tapi terkadang biadab. Nama nya Indonesia.
Tanah air tercinta ku yang tak kan
ku lupa. Hingga aku hanya ingin terkubur di dalamnya sebagai gundukan tanah
yang punya cerita.
Aku dan Nabil tampil bersama untuk
mengguncang dunia dengan pena, hanya bermodal pena dan tinta. Malam itu, angin
terasa kaku, menusuk enggan namun menyakitkan tulang dan sendi. Aku dan Nabil
melintasi jalanan malam dengan lampu-lampu centil, main mata seakan menggoda. Raja
bulan dan prajurit-prajurit nya menyaksikan kami terengah-engah menyusuri
jalan.
“Bray, aku harus pulang minggu depan” cetus nya.
Aku hanya diam setengah kaget, sebenarnya sudah biasa ia mengatakan itu,
dan baru seminggu lalu ia pulang kampung, biasanya ia pulang satu bulan sekali.
“Kenapa? Tapi baru seminggu lalu pulang?” Tanya ku.
“Ia, aku memang harus pulang. Dan aku tak yakin akan menulis lagi”.
Aku kaget setengah mati, menulis yang telah menyelamatkan ekonomi nya di
perantauan ditinngalkannya. Aku tahu, ia suka menulis, dan ia juga sangat
berbakat.
“Kenapa? Karena takut saingan dengan aku?” Tanya ku bercanda.
Dia melihatku sambil mencoba mengeluarkan senyum terindah nya. Pikiran ku
kembali terbang terbawa angin malam. Ku biarkan ia pergi sejenak, dan akan
kutunggu sampai ia kembali.
“Kau sudah bosan berteman dengan ku?” Tanya ku heran, dengan alis
terangkat.
“Tidak, bahkan aku sangat senang berteman dengan mu Nan.
Aku harus membantu Nenek ku mengurusi ladang dan sawah. Mungkin aku juga akan
berhenti kuliah untuk sementara waktu” terang nya.
“Apa-apaan kau ni. Sudah jangan bercanda. Tak lucu bercanda mu” kata ku.
Kekagetan ku mencuat lagi. Kali ini mencapai titik puncak.
Air mata nya terlihat hampir keluar. Aku lari meninggalkannya sendirian.
“Nan, kemana kau?” teriak nya.
Aku berbalik dan menganggkat tangan. Tanda aku tak percaya semua
perkataannya. Aku kembali ke kost ku yang jauh dari tempat kost nya. Ku
baringkan tubuh lelah ku.
Sepertiga malam biasanya hp ku selalu berdering, aku dan Nabil punya
agenda bangunin dijam ini. Dan malam ini gilirannya. Aku bangun tanpa deringan
itu. Ku coba untuk membangunkannya, dan ternyata tak di respon oleh nya.
“Allah, ada apa dengan kawan ku? Dia terlihat aneh dan menjengkelkan.
Semoga ia selalu baik-baik saja”.
Sebelum berangkat kuliah, ku sempatkan menjemputnya. Namun ternyata
kamarnya kosong.
“Nabil sudah pergi Nan” kata teman
Nabil.
“Oh, ok makasih ya. Aku duluan ya” jawab ku.
Dia mengangkat tangan seakan mengiyakan perkataan ku.
Jam kuliah akan segera dimulai, tapi hidung Nabil tak terlihat,
celotehannya tak terdengar, apalagi wujud nya, tak terasa adanya. Banyak
teman-teman bertanya pada ku tentang Nabil, “aku juga tidak tahu dia kemana,
mungkin dia terlambat” hanya itu yang aku jawab.
Hari-hari berjalan tanpa Nabil di kelas, aku sering sendirian mencari
objek tulisan. Ke sungai sendirian, ke jalanan sendirian, kemana-mana
sendirian.
Nabil juga hampir setiap hari Adzan di masjid kampus, dan sekarang tak
ada lagi. Dan aku yang harus menggantikannya. Yaa walaupun tak semerdu suara
Nabil. Keheranan masih mengelayuti pikiran dan perasaan ku. Hujan deras terasa
biasa, angin seakan tak bersahabat lagi, lampu jalan pun tak istimewa.
“Dimana kau?” jerit ku dalam hati.
Mungkin aku yang dulu terlalu bergantung pada nya, hingga ketika saat dia
tiada, aku merasa hampa dan ksosong. Layaknya kertas kosong di campakkan dari
atas gedung, lembek, hanya mampu mengikuti angin.
Hari ini genap dua bulan aku sendiri tanpa nya. Sekarang angin terasa
kawan, hujan terasa riang laksana embun di rerumputan, ngarai sungai anggun
memanggil, dan lampu malam terasa asyik. Yang terpenting, harapan ku tak kandas
hanya diatas rerumputan dan tumbukan daun kering.
Minggu depan akan ku cari dimana Nabil, akan ku datangi kampung nya yang
jauh di sudut hutan. Hanya untuk bertanya, untuk apa dia melakukan ini semua?
Dan kemana janjinya dengan ku yang akan bersama-sama memampangkan nama dalam
daftar penulis muda dunia.
Setiap hari aku memikirkannya, bertanya pada diri sendiri apakah ada
salah ku padanya? Hingga asa itu merajuk dalam pelukan malam. Bagai botol yang
hanyut di tengah samudera, sendiri, sepi dan berharap bintang mengangkatnya
kelangit. Desaran ombak samudera menggelayuti tulang belulang, hingga remuk tampa utuh, tinggal serpihan-serpihan
kecil yang tersisa, dan itu yang kini ada pada ku.
Bermodal kenangan, dan piagam kemenangan artikel pertama ku, aku
beranikan kaki melangkah sendiri, mencari yang dulu ku kira ia adalah pasangan
tongkatku kelak. Yang hingga kini, harapan yang masih sama, satu frame dengan
beribu kata dari nya.
Berjubal-jubal dengan manusia-manusia asing dalam bis usang, meniup asap
rokok yang busuk, hingga mencium muntahan yang membuat mual.
“Ini yang Nabil rasakan dua minggu sekali dulu? Sungguh menyiksa. Tapi
kenapa ia mau pulang sesering itu ya? Dasar Nabil” pikir ku dalam hati.
Dalam bis, tidur ku tak nyenyak, mendengar ocehan tetangga, bau busuk
muntahan, hingga polusi udara bis yang memusingkan kepala. “Bis beginian masih
di pertahan kan, udah di museum kan aja” jerit ku, tapi
dalam hati. Belum lagi sudah over
capacity, bagaimana mau selamat sampai ke tujuan, wong keselamatan, dan
kenyamanan saja tidak diutamakan.
Akhirnya setelah 4 jam menahan kan
nafas, aku bisa menghirup udara segar, aku sampai di kampung Nabil, Selamat Datang di Siantar. Beberapa orang ku Tanya rumah Nabil, tapi tak
ada yang tahu, sayangnya aku tak tahu nama nenek nya atau nama orang tua nya.
Berjam-jam aku berjalan, puluhan petak sawah terbentang hijau sudah ku susuri,
tapi satu orang pun tak mengenal Nabil.
Ku lihat di ujung jalan ku buntu, harus kemana lagi mencari mu Nabil. Ada dan tidak adanya kau
selalu menjengkelkan. Gerutu ku dalam hati. Berulang ku lap keringat yang
bercucran.
“Anannn…., itu kau Nan?” didepan sana
ada suara memanggil nama ku. Apa itu Nabil, pikir ku. Aku mempercepat laju kaki
ku, siapa tahu itu memang Nabil.
“Anan, mau kemana kau?”
“Nabill… ya ampun akhir nya Allah masih menyayangiku” kata ku sambil ku
peluk tubuh nya.
“Apa-apaan kau ini, lepas kan
aku. Geli aku kau peluk” canda nya.
“Dasar kau ini, menjengkelkan sekali jadi orang. Kau ngapain Bil?” Tanya
ku.
“Seharusnya aku bertanya, apa yang kau lakukan disini?” Tanya nya heran.
“Aku hanya mencari seonggok daging yang hilang dalam hari-hari ku
beberapa bulan ini. Kata orang-orang ia ada disini”.
“Leh leh leh, gaya
mu. Eh tapi makin mantap saja kata-kata mu” puji nya.
“Ah, berlebihan kau Bil”.
“Aku tadi mau merumput ladang nenek ku, tapi ayok lah ku ajak kau ke
gubuk ku” ajak nya.
Sampai nya disana, ada tetangga Nabil yang menyapanya.
“Lho Fiz, tadi baru berangkat, eneng leng ora kegowo yo?” Tanya uwak itu.
“Ora wak, iki eneng konco ku, mau nemu nang dalan” jawab nya sopan.
“Apa Bil, nemu? Emang nya aku hilang apa?” kata ku pada nya.
Nabil hanya tersenyum lalu mengajakku masuk kedalam rumahnya. Rumahnya
sederhana, tak ada barang-barang yang terlihat mewah, neneknya terlihat di
dalam kamar sedang tiduran.
“Itu nenek mu Bil?” Tanya ku sambil menunjuk kearah wanita renta itu.
“Ia, itu nenek ku. Dia sakit Nan, sudah
tidak bisa berjalan lagi” jelas nya.
“Ini alasan nya kau lakukan semua ini?” Tanya ku.
“Ini hanya satu alasan dari banyak alasannya” jelasnya.
“Banyak alasan?” Tanya ku.
“Ia” jawab nya singkat.
Aku mencoba tidak bertanya tentang keadaanya lagi, ku alihkan pertanyaan
ku.
“Eh Bil, Uwak yang tadi kenapa manggil kamu Fiz. Setau ku nama mu
Muhammad Nabil, dimana letak Fiz nya” Tanya ku heran sambil bercanda.
Dia hanya tertawa, dan mengangkat bahu nya.
“Eh, jelas kan
dulupada ku. Kau juga tidak terkenal ya disini? Dari depan sampai belakang sana tak ada yang kenal
dengan yang namanya Nabil. Ahh Nabil payah, di kampus saja terkenal nya, di
kampung nya malah tidak” celoteh ku.
“Eh jangan asal bicara kau ini”.
“Lah terus apa namanya? Makanya
kau jelaskan dulu pada ku” Tanya ku sambil meneguk air putih yang disediakan
Nabil.
“Nanti ku ceritakan semua nya, istirahat dulu kau disini. Aku ke ladang
dulu ya. Kalau kau mau tidur disana ya, dikamar ku saja” jelas nya sambil
menunjuk ruang kecil yang tertutup tirai biru.
“Aku ikut saja lah Bil, nanti nenek mu kaget melihat makhluk ganteng
seperti ku” canda ku.
“Sudah dirumah saja, nenek ku sudah tak jelas pandangan nya, jika melihat
wajah mu pun, sudah tek jelas lagi”.
“Baiklah, jangan lama-lama ya Bil” kata ku pada nya.
Aku duduk di teras rumah nya, dan kebetulan ada uwak yang tadi menyapa
Nabil.
“Nak, konco ne Hafiz yo?” Tanya nya.
“Hafiz siapa wak? Aku konco ne Nabil” jawab ku heran
“Hafiz leng mau, memang jenenge Nabil, tapi wong kene podo panggil Hafiz”
terang nya.
“Lho nak opo wak?”Tanya ku heran lagi.
“Hafiz tu penghafal Qur’an disini, dan beberapa bulan ini setelah ia tak
kuliah lagi, ia terlihat lebih rajin ke masjid” jelas uwak itu. Mungkin ia tahu
bahwa bahasa jawa ku masih terbata-bata.
“Oh, jadi ini alasan Nabil” kata ku dalam hati. “Tapi kenapa harus sampai
berhenti kuliah ya wak?” mencoba mencari informasi dari uwak ini.
“Mungkin saja ia ingin merawat neneknya yang sudah tua. Setelah beberapa
bulan lalu, ibu nya Nabil meninggal, dan keluarga yang masih ia miliki adalah
neneknya”. Jelas uwak.
Aku terdiam dalam waktu yang cukup lama, membayangi wajah Nabil yang
sekarang tengah tersengat mentari, bermandi keringat. Tak lama setelah lamunan
itu Nabil pulang, dan menceritakan alasan nya.
“Nan, hanya itu yang bisa ku lakukan
untuk kedua orang tua ku. Dari aku kecil, aku sudah tidak punya ayah. Dan baru
saja ibu ku juga pergi. Belum ada yang ku lakukan untuk mereka. Hanya mahkota
dan jubah kemulian yang ingin ku berikan sekarang Nan”.
Kata Nabil sambil mengelap air mata yang hampir jatuh dari mata nya.
Aku hanya bisa mengelus pundak nya. Aku juga sebenarnya ingin
memeluknya.tapi dia anti dipeluk. Aku menyayangimu karena Allah Bil.
Medan, 23 August 2013