Sunday, July 14, 2019

Terimakasih

Sorai ramai sekali kicau burung gereja, ntah apa yang tengah mereka bincangkan. Roda yang menjanjaki pedal kehidupan berjalan beriring dengan titah Nya. Keniscayaan kehendak Allah lebih anggun ketimbang rencana detail buatan kita. Tapi, bukannya masa depan bisa di rapal dengan merencanakannya? Tentu, itu bentuk usaha. Karena takdir bisa saja lebih baik, sama saja atau bahkan berbanding terbalik dengan perencanaan kita. “Itu memang tugas manusia, ustazah. Kita yang berencana, dan Allah yang Maha Menetapkan”.
Aku menaruh harapan dan mendapatkan banyak inspirasi dari insan ini. Kesan awal yang aku dapatkan adalah bahwa dia sudah melalui hal yang selama ini aku mimpikan. Lanjut studi dan negeri luar. Ketika aku menulis ulang kisah ini, dalam layar putih Microsoft word, disaat itu juga aku menanti 59 hari menuju akad. Benar, akad nikah. Persaksian komitmennya dengan memantapkan hati dan menjabat tangan bapak, “aku terima nikahnya…”
Ketika berimajinasi tentang kejadian itu, debar jantung, gugup, pikiran berkecamuk. Ntah apa perasaan ku nanti. Saat ta’aruf saja kondisi hati dan pikiran sudah tidak normal, terlebih saat khitbah sudah segugup itu, bagaimana ketika akad nanti. Lebih gugup dari presentasi didepan penguji. Aku serius. Mungkin setiap wanita akan memiliki degup jantung yang serupa.
Tepat 30 September 2017 lalu, adik kos ku bercerita tentang event seminarnya padaku, yang salah satu narasumbernya mendadak membatalkan kerjasama. “Kak, ada gak kawan kakak yang kuliah di Jepang”.
“Gak ada dek, tapi yang pernah magang di Jepang ada dek, tapi dia orang Malang”
“Yah kak, ada yang lain ndak ya kak? Untuk ngisi acara tanggal 8 Oktober kak”
“Ada dek, tapi dari timur tengah sih, gimana?”
“Boleh kak”
“Ada dua sih dek, di sekolah kakak. Yang satu namanya kak Iir, dia pernah kuliah di kairo dek, sekarang udah punya anak, dan InsyaAllah sebentar lagi berangkat ke Pakistan, karena suaminya dapat beasiswa S3 disana. Dan yang kedua, laki-laki, pernah kuliah di Tunisia, udah S2”
“Yang laki-laki itu beasiswa juga kak?”
“Iya dek”
“Yaudah yang kedua aja kak”
Pada malam 30 September itu, komunikasi itu terbangun, sungguh tanpa ada niat membangun komunikasi berlebihan dan tanpa ada niat apapun selain menanyakan kesediaannya untuk mengisi acara seminar itu.  Dia pernah menjadi guru di sekolah tempatku mengajar, kurang lebih satu bulan, karena itu aku mengenalnya.
“Assalamu’alaikum, ustadz sugi, saya suci guru SMP Al-Fityan. Afwan ustadz sedang sibukkah? Ustadz afwan, apakah tgl 8 ustadz sudah ada agenda?” -19:46

“Wa’alaikumsalam,
Marhaban ustazah.. apa kabar?
8 oktober sementara saya belum ada agenda ustazah. Ada apa ya ustazah?” -20:22

“Alhamdulillah baik ustadz, ustadz apa kabar?
Ustadz, saya mau Tanya, ustadz kuliah di Sudan dan Tunisia dengan beasiswa atau tidak ya ustadz?” -20:26

“Alhamdulillah baik. Saya dulu bukan di Sudan ustazah. Tapi di Libya dan Tunisia. N keduanya berbeasiswa. Ustazah mau kuliah disana? (:”
-20:30

“Oo Libya ya ustadz. Ustadz, temen saya dan organisasinya ada membuat seminar tentang pendidikan luar negeri. Dua pembicaranya sudah ada dan kurang 1 pembicara lagi. Kira-kira ustdz bersedia menjadi salah satu narasumbernya?” -20:37
(lalu ada beberapa penjelasan tentang teknis seminar tersebut)

“Iya ustazah, boleh ustazah, InsyaAllah..” -20:42

“Alhamdulillah, saya berikan nomor ustadz ke temen saya ya. Untuk lebih jelasnya, akan di jelaskan dengan panitianya ustadz ..” -20:43

“Baik ustazah ..”

Alur obrolan terhenti sampai disana. karena memang tidak ada niat untuk membangun komunikasi berlebih yang membahas hal-hal pribadi dan mengenalkan diri. Enam hari setelahnya, aku beranikan menanyakan jenis beasiswa apa yang dia dapatkan saat sekolah di luar. Jujur saja, keinginan untuk lanjut studi masih menancap kuat di sanubari.
“Macem-macem ustazah, S1 beasiswa Medco foundation (Perusahaan minyak), S2 beasiswa Mora Scholarship (Kementrian Agama). Dan untuk S3 saya belum apply ustazah, tapi InsyaAllah antara 2, kalau tidak Mora Scholarship, melanjutkan yang kemarin atau LPDP affirmasi Kemenkeu. Ustazah ada niat S2 gak?”

Ada banyak inspirasi tentang niat untuk terus belajar yang ku dapat dari insan ini. “gak apa-apa ustazah, InsyaAllah nanti akan S2 di waktu yang tepat, yang penting semangat belajarya harus terus ada”.
Pada komunikasi via whatsApp ini ada beberapa hal yang membuat tercengang, ada hal yang belum kuutarakan tentang ku ternyata dia sudah tau. Aku lupa saat itu awalnya membahas tentang apa. “Enggeh ustazah, the teacher of PKn more understand about it”
Pernah kami membahas tentang sekolah, penyebab kenapa dia pindah dari sekolah, bagaimana sikap menghadapi anak yang super energik, bagaimana kondisi sekolah sekarang, dan belajar bahasa arab bagi guru di sabtu pagi.
“Sebenarnya ada sekitar dua sampai tiga ribu kata bahasa arab yang diserap oleh bahasa Indonesia”
“really ustadz?”
“Iya ustazah,. Dan klasifikasi pembelajar bahasa arab kedalam 3 level; pemula, menengah dan mahir. Dan itu dikembalikan ke-seberapa banyak kosakata yang dia hafal. Kalau dia menguasai sekitar 1000-1500an kosakata, maka dia masih masuk level pemula, sedangkan ustazah udah menguasai tiga ribu kosa kata coba, udah masuk level mahir itu. (: hanya terkadang kita tidak sadar akan hal itu ustazah”
“Mantap, contohnya apa ustadz?”
“Seperti jalan tol, itu dari bahasa arab. Jaulan artinya perjalanan dan Tuul artinya panjang atau lurus”
“Hemm MasyaAllah…sepertinya saya masuk dalam bagian orang-orang yang gak sadar kalau banyak bahasa arab diserap bahasa Indonesia…”
“Hehehe, sadar ustazah,,, sadar”

Aku semakin tertarik untuk belajar bahasa arab, “ustazah mau saya kirimin modul? Nanti kita bahas bareng”
Iya ustadz, mau
Sekitar sebulan menjadi hari rutin untuk belajar bahasa arab. Bagaimanapun juga, ada perasaan yang tidak normal, ntah perasaan apa namanya. Kagumkah, sukakah, atau apakah? Aku beranikan diri untuk menyatakan perasaan untuk mengurangi intensitas komunikasi. Dan Alhamdulillah, dia mengerti dan memahami. Ntahlah, hanya saja aku takut merusak keimanannya, bagaimanapun juga, hubungan antara laki-laki dan perempuan yang intens akan ada unsur godaan syetan untuk mengotori hati. Dan aku hanya ingin menjaga itu, menjaga kondisi hatiku untuk tetap bersikap biasa dan tidak merusak keimanannya.
“Ustadz, untuk seminggu kedepan saya libur di kelas bahasa arab ya, ada proyek akhirat yang mau dilaksanakan, jadi untuk kelancaran keberjalanan proyek itu, saya harus mengkondisikan hp, maaf ustadz”
“Iya ustazah, ndak apa. Semoga proyeknya lancar dan diberkahi Allah”
Itu pesan terakhir yang ada di akhir obrolan whatsappku. Setiap kita tentu memiliki harapan untuk hari setelah hari ini. Harapan, do’a dan sujud sepertiga malam menjadi rutinan yang penuh kenikmatan, rasa berserah pada Nya adalah jalan untuk membendung perasaan asing seorang perempuan. aku belajar lebih ikhlas untuk menerima semua ketetapanNya. Ada sinyal positif dari sebuah kalam cintaNya “Aku tergantung bagaimana perasangka hambaKu”.
Qodarullah, sepulang mengikuti mukhoyyam Al-Quran, aku mendapatkan kabar dari Murabbiah bahwa ada seorang ikhwan yang ingin berproses dengan ku. Setelah aku dapatkan proposal itu, ada kecamuk luar biasa, ntah itu rasa syukur atau bahagia dan bahkan mungkin keduanya. Pemilik proposal itu adalah, sensei bahasa arabku, inspirasi ku untuk selalu semangat melanjutkan studi, ustadz yang senantiasa memberi nasihat, insan itu, tuan teh jahe, Sugianto.
Ada banyak do’a baik dan harapan tulus dari proses ini, aku menyadari bahwa komunikasi yang selama ini terbangun adalah tidak baik. Karenanya, semenjak proses ini, aku menahan diri agar untuk menjadikan proses ini benar-benar bersih dari nafsu, dan semoga dia juga begitu.
Aku kabarkan hal ini kepada mamak bapak, dan syukur Alhamdulillah mendapat tanggapan positif dan restu. Dan semoga Allah juga memberi restu, sebab Ridho Allah tergantung pada Ridho orang tua.
Setelah tukar proposal, Alhamdulillah menuju ta’aruf berjalan dengan lancar, diiringi gerimis sebentar, terhenti saat adzan zuhur. Puluhan pertanyaan yang sudah ku siapkan, luluh tak bisa kuucapkan saat itu. Malu sekali, tidak percaya diri. Ada degup jantung luar biasa, setiap detik aku pura-pura kehausan. 13 Januari 2018.
Ustadz datang kerumah seminggu setelahnya, 21 Januari 2018. Ada kalimat yang membumbung di langit-langit hati, “Saya bukan ingin mengambil putri bapak, tapi saya ingin menjadi bagian dari keluarga ini”. Dan 11 Februari ada perhiasan kecil melingkar di jari manis kananku, yang di pakaikan oleh kakak ustadz. Satu hal yang ntah dia perhatikan atau tidak, aku mengenakan baju putih dan jilbab biru. Persis dengan datanya yang ada di proposal, bahwa dia menyukai warna putih dan biru.
Walau saat ini belum mencintaimu, tapi setelah akad cintaku hanya untukmu, setelah Allah dan RasulNya. InsyaAllah … Aamiin,


Medan, Februari 2018