Angin
merambat perlahan diatas dedaunan yang berserakan ditanah, hampir saja benda
kesayangan ku yang tadi sore ku tinggalkan tak hanyut terbawa angin. Sore tadi
aku dan adik-adik ku bermain boneka barbie dibawah pohon besar itu, kami
tertawa riang, berlarian, menari, gokil deh…
Malam
ini angin juga enggan bersahabat dengan ku, aku dibuatnya kedinginan, hampir
menggigil, dan tak karuan rasanya. Sehingga aku dan keluarga ku harus tidur
lebih awal. Suasana dingin ini ternyata ingin membuat kemarahanku membeludak.
Karena dingin ini, aku dan adik-adik ku tak bermain bersama lagi di bawah pohon
itu, karena ibu bilang hari akan hujan dan ibu bilang jika kami bermain hujan,
kami akan sakit.
Lima
hari berturut-turut angin dingin itu menyinggahi kampung ku. Terang saja,
kampung ku dekat sekali dengan pantai. Pantai di kampung ku indaaah sekali, dan
belum banyak dijamah oleh para pelancong. Pasir nya putih, air pantai nya biru,
banyak sekali terumbu karang nya, jika dilihat dari atas, terumbu karang nya
bisa diterawang dan hampir terlihat jelas. Koral-koral juga banyak hidup
berdampingan, dan satu lagi makhluk laut favorit ku dan adik-adik, ikan buntal.
Dan yang paling penting, warga kampung ku bisa menjaga kebersihan pantai. (heheheheh).
Selain
pohon itu, pantai adalah tempat favorit ku bermain. Jika di pantai, tentu saja
kami tak bermain boneka barbie, kami membuat istana pasir yang tak karuan
bentuknya. Kak Juna selalu kami ajak jika kami hendak membuat istana pasir,
karena Kak Juna adalah sang ahli membuat istana pasir. Pernah ketika ada lomba
membuat istana pasir di kampung ku, Kak Juna adalah lawan terberat bagi seluruh
peserta. Dan acapkali, Kak Juna adalah pemenangnya.
Kak
Juna adalah kakak tertua kami, dan aku tertua kedua. Di rumah yang sering
disebut Panti Asuhan ini, kami hidup bersama. Ada Ibu, Kak Juna, Aku,
Adik-adik, Bibi, dan beberapa ekor ayam peliharaan kami.
Ibu
bilang, delapan belas tahun lalu, seorang nenek mengantar ku kerumah kami, saat
itu aku baru beberapa jam lahir, tubuhku masih merah, dan tali pusar ku juga
belum terlepas. Aku menangis tiada henti. Nenek itu bilang, wanita yang
melahirkan ku telah meninggal, sesaat setelah aku lahir dan suami dari wanita
yang melahirkan ku juga telah meninggal, hanya tinggal nenek itu seorang. Tapi,
nenek itu tak bisa merawatku, karena saat itu sedang terjadi pencarian keluarga
para anggota PKI (Partai Komunis Indonesia), ayah ku adalah salah satu anggota
PKI. Nenek itu takut jika aku ditangkap bersama nya, sehingga ia terpaksa
memberikan aku pada Ibu.
Ibu
juga bilang, aku tak usah mencari keluarga ku, karena mereka semua telah tiada.
Ibu juga bilang, keluarga ku adalah mereka.
Aku
mengetahui cerita itu, ketika umur ku hampir 17 tahun. Awalnya aku sangat
terkejut dan merasa kalut, dilema dan galau. Tapi Ibu bilang, aku tak sendiri,
selalu ada Allah dan ada mereka disamping ku.
“Ra…..”
suara ibu memanggil ku.
“Ia
bu, sebentar lagii…” jawab ku singkat.
Sore
itu, aku mengajak adik-adik bermain di pantai tanpa Kak Juna, sehingga ibu
sedikit lebih khawatir dan menyuruh kami cepat pulang.
“Dik,
ayoo kita pulang, ibu sudah manggil..” ajak ku pada mereka.
“Sebentar
lagi kak” bantah Ais manja.
“Ayoo
lah, nanti ibu marah sama kakak, besok kita main lagi, kita main sama Kak Juna”
ajak ku tanpa putus asa.
“Apa
kak? Kak Juna? Besok kita main sama Kak Juna?” jawab Kiki penasaran. Karena Kak
Juna sedang keluar kota untuk mengurus S2 nya.
“Ia,
besok Kak Juna pulang, ayoo kita pulang” ajak ku lagi.
Mereka
pun akhirnya terhipnotis juga dengan ajakan ku. Aku dan adik-adik pulang dengan
pasir berserakan di wajah, baju dan tubuh kami. Tapi, bukan bermain di pantai
jika tak pulang dengan oleh-oleh pasir.
Tiba
nya dirumah, kami harus mandi. Lalu berpakaian rapi dan siap mengaji. Jika ibu
berhalangan, Kak Juna yang biasa mengajar kami mengaji, tapi jika tak ada Kak
Juna, aku deh yang harus mengajar mereka.
Mereka
bilang, suara ku lebih merdu dibanding Kak Juna jika mengaji, jadi mereka lebih
suka mengaji dengan ku dibanding dengan Ibu dan Kak Juna. (hehehehe, GR).
*******************
Jam hape ku berada pada 04:09 pagi. Aku
tersentak bangun, lalu berniat Tahajjud.
Aku bergerak perlahan agar adik-adik ku tidak terbangun. Tangan jam dinding
kamar ku tak henti berputar, detik demi detik ia lalui melewati angka-angka
yang bermakna itu. Hingga waktu Shubuh tiba. Adzan berkumandang dari beranda
Mesjid dekat rumah kami, satu per satu adik-adik ku mulai terbangun dengan
wajah yang masih terlihat ngantuk, mulut mereka masih menguap lebar. Lepas
shalat Shubuh, kami berolahraga bersama, berjalan keliling kampung.
“Beberapa
jam lagi, Kak Juna pulang, horeeee” teriak Ais pada kami.
Ia
terlihat sangat bahagia karena Kak Juna akan pulang hari ini. Begitu juga
dengan adik-adik lain, Ibu dan juga Bibi. Tentu saja aku tak kalah bahagianya.
Pagi
ini, angin sangat bersahabat dengan ku. Ku titip kan salam rindu pada angin
untuk disampaikan pada kakak kesayangan ku, Kak Juna. Bait demi bait salam
rindu itu tersimpan dengan rapi di folder perasaan ku dan keluarga ku. Beberapa
bulan Kak Juna pergi, sudah terasa
sangat lama sekali.
“Kak
Juna, aku kangen” kata ku dalam hati.
Teriakan
itu terdengar dari teras rumah kami, “assalamu’alaikum, ibuuuu”
Suara
itu tak terdengar asing lagi ditelinga kami, itu suara Kak Juna, kakak
kesayangan ku dan adik-adik. Kak Juna langsung peluk Ibu dan Bibi, lalu
menghampiri kami. Kak Juna memeluk satu per satu adik-adik. Lalu beralih ke
arah ku, ia memberi ku tangan nya untuk ku cium. Kak Juna bilang, aku sudah
besar, jadi tak boleh aku di peluk. Kakak kesayangan ku itu tak banyak berubah,
hanya saja ia kelihatan sedikit hitam dan kurusan. Tak lama setelah itu, Kak
Juna mengajak kami bercerita.
“Waktu
kakak di Surabaya, kakak berjumpa dengan
orang banyaaak sekali, kakak juga dapat teman yang sangat baik, dia
mengajak kakak makan, membeli buku juga kakak diperbolehkan tidur dirumahnya”
cerita Kak Juna panjang.
Adik-adik
terlihat sangat antusias mendengar cerita kakak. Berbagai pertanyaan aneh
mereka tanyakan, dan kakak juga tak kalah aneh nya menjawab pertanyaan mereka.
Ibu benar, ini adalah keluarga ku, yaa mereka adalah keluarga ku. Mereka yang
harus ku jaga dan harus ku bahagiakan.
“Dek
Ra… “ suara Kak Juna memanggil ku.
“Ia
kak, sebentar, aku lagi nyuci piring” jawab ku.
Setelah
semua piring ku cuci, aku langsung menuju lokasi dimana kakak berada. Ternyata
kakak mengajak ku ke pantai, namun tanpa adik-adik.
Ombak-ombak
kecil yang mencoba merayu angin terlihat sangat manja, atau mungkin ia sedang
tebar pesona pada burung-burung pantai. Sore itu, angin terasa sejuk sekali,
dan sore itu hanya ada aku dan kakak di pantai. Aku juga tak tahu mengapa tak
ada warga lain yang berada dipantai sore itu.
“Kak,
kenapa tak ajak adik-adik?” tanya ku.
“Tak
apa, biarlah mereka bermain sendiri” jawabnya singkat. Tapi ku pikir bukan itu
alasan kakak yang sebenarnya mengapa tak ajak mereka. “masih suka angin kan
dik?” tanya nya pada ku. “Tentu saja, angin masih menjadi sahabat ku, dan mungkin
hanya angin yang akan selalu menemani ku kak” jawab ku dengan helaan nafas yang
menarik angin ke dalam hirupan nafasku.
Sebelumnya
tak pernah hanya ada aku dan Kak Juna di pantai, dan aku merasa sedikit heran
dengan suasana kala itu, namun ku coba tepis kan saja pikiran ku itu. Kak Juna
hanya diam sembari memandangi langit sambil merebahkan badan di atas pasir
pantai putih sambil mengangkat tangan nya seakan ia menggambar sesuatu.
“Kakak
sedang apa?” tanya ku heran.
“Kakak
mencoba menggambar wajah mu” jawabnya dengan senyuman.
“Ahhh
kakak ada-ada saja” lanjutku malu-malu.
Kak
Juna diam lagi, kali ini terlihat matanya menahan air mata. Ku pandang wajah
kakak ku itu dengan seksama. Seperti ada yang ingin ia utarakan pada ku.
“Kau
tau, kakak sangat sayang pada keluarga kita, kakak tak ingin kehilangan kalian”
kata Kak Juna sambil menghapus air mata yang tak mampu ia tahan.
“Kakak
kenapa nangis? Kakak rindu sama kami? Kami juga rindu dengan kakak dan kami
juga gak akan meninggalkan kakak sendiri, kan kita keluarga kak” kata ku
mencoba untuk menenangkan perasaan nya.
Angin
berhembus dengan lembut, mungkin hanya Tuhan dan angin yang bisa tahu apa yang
sedang dirasakan kakak ku saat itu. Suasana yang hening di temani air pantai
yang bening, dan kebeningan air pantai sebentar lagi akan menjadi cermin
matahari. Tanda ia sebentar lagi akan tenggelam.
“Dik,
apa kau tahu cinta?” tanya nya.
“Tentu
saja, angin yang Tuhan berikan pada kita, itu cinta. Kasih yang Ibu berikan itu
juga cinta. Dan semua hal yang kita lakukan pada adik-adik itu juga cinta.”
Jawabku luas.
“Lalu
kita?” tanya nya lagi.
“Maksud
kakak? Aku tak mengerti apa maksud kakak?” jawabku dengan wajah yang sedikit
jelek.
“Aku
tahu, kau sayang pada adik-adik, dari dulu hingga sekarang kau selalu membantu
Ibu dan menemani adik-adik. Tapi, kenapa kau tak memikirkan dirimu sendiri?”
terang kakak.
“Tidak
begitu kak, tentu saja aku memikirkan diri ku sendiri. Aku akan tetap lanjut
kuliah, walau Ibu bilang ia tak bisa membiayai ku”. Paparanku pada kakak yang
saat itu sangat aneh.
“Bukan
itu maksud kakak. Soal itu kakak yakin kau akan terus lanjut belajar sampai
kapan pun. Kakak tak tahu, perasaan apa ini, tapi sayang kakak pada mu berbeda
dengan sayang kakak pada adik-adik kakak yang lain. Tapi sudahlah jangan kau
pikirkan, biar kakak saja yang mencari tahu” jelas kakak pada ku.
Kami
pun beranjak untuk kembali kerumah, karena sepertinya sang surya sudah letih
menerangi kami siang tadi, ia pun seakan ingin istirahat dulu. Diperjalan
pulang, kakak hanya diam, dan jika ku tanya sesuatu ia hanya menjawab seadanya.
Suasana
Shubuh ini, terasa seperti biasa, dingin. Shalat Shubuh berjamaah pun akan di
mulai, suara iqomah Kiki telah terdengar.
“Anak-anak
ayoo cepat” terdengar suara Bibi memanggil kami yang sangat susah bangun tidur.
“Ia biikkk” sahut Dinda.
Shalat
Shubuh ini, Kak Juna yang menjadi imam. Aku masih bingung pada sikap Kak Juna
kemarin sore. Aku juga tak mampu menebak apa maksud Kak Juna. Sungguh aneh
kakak ku itu.
Siang
ini, Kak Juna mengajak ku ke bawah pohon besar itu, tempat favorit kami
bermain, bersama adik-adik. Aku juga merasakan getar-getir keanehan pada
ajakannya kali ini. Dan anehnya lagi, suasana sangat sunyi, tak ada suara
teriakan adik-adik, karena Dinda dan Ais masih sekolah, sementara Kiki. Bagas,
Endut dan Puput sedang tidur siang.
Kami
duduk diatas serakan daun yang gugur, gugur karena sentuhan angin. Atau mungkin
karena kemarahan angin. Tapi, angin jarang marah pada ku, hanya saat itu saja.
“Kakak
sayang pada mu dik, tapi tak sayang seperti adik-adik yang lain” Kak Juna
memulai kata-kata yang membingungkan ku.
Aku
hanya diam, mencoba memahami kata-kata Kak Juna.
“Angin
tak butuh teman untuk mengampiri ombak, yang angin butuhkan hanya Tuhan” lanjut
Kak Juna.
“Aku
tak boleh bersahabat dengan angin?” tanya ku heran.
“Kakak
tak bicara begitu” jawabnya singkat.
“Lalu
apa maksud kakak? Kakak bilang angin tak butuh teman, apa aku teman yang
merepotkannya kak?” kata ku sewot.
“Kau
marah pada kakak?” tanya nya. Seakan ia takut jika aku marah.
“Tidak,
aku hanya tak mengerti apa maksud kakak?” jawab ku kembali sewot.
Kak
Juna menghela nafas dalam-dalam, lalu berkata “kakak cinta pada mu, tapi tak
seperti cinta kakak pada adik-adik. Kakak mau kau menjadi istri kakak kelak”.
Aku melongo,
aku kaget, seakan aku melayang dibawa angin yang melesat ke dunia ikan buntal.
Lalu aku berlari meninggalkannya pergi. Arah tujuan ku, tak lain adalah pantai.
“Angin,
apa yang harus ku katakan pada Kak Juna? Aku juga sangat menyayanginya, tapi
aku tak tahu, sayang ku ini sama seperti dia pada ku atau tidak”.
Beberapa
minggu, aku dan Kak Juna terlihat berbeda. Ibu, Bibi, dan adik-adik juga
merasakan hal yang sama. Dan mengundang banyak pertanyaan mengapa kami berbeda
“Kak
Juna sama Kak Chira marah-marahan ya?” tanya Endut.
“Tidak
dik, mungkin Kak Juna lagi sariawan jadi malas bicara dengan kakak” jawab ku.
“Tapi,
bicara sama aku dan yang lain mau kak?” tanya nya lagi.
“Mungkin,
waktu bicara sama kalian sariawan nya Kak Juna lagi gak sakit” terang ku.
“Oohh
gitu ya kak! Memang nya bisa gitu ya kak?” Tanya nya lagi, seakan ia tak puas
akan jawaban ku.
“Ia.
Sudahlah, kakak dan Kak Juna tak apa-apa” terang ku lagi.
Dua
hari lagi Kak Juna akan pergi ke luar kota untuk mengurus mendaftar di kampus
yang telah memberikan beasiswa padanya.
“Nanti
setelah kakak lulus dan mendapatkan pekerjaan yang baik, kakak akan melamar mu
dik. Ini bukan janji, tapi harapan kakak”. Isi surat yang kakak tulis untuk ku.
Kau bilang
Kau sahabat angin
Aku bilang
Angin tak butuh
teman
Lalu kau marah
Jangan terlalu
percaya pada angin
Percaya lah hanya
pada Allah
Serpihan mozaik
rindu akan ku titipkan pada angin
Karena ku tahu,
angin akan jujur padamu
Adik ku…
(Kamis,
31 Januari 2013)

