Saturday, November 2, 2013

SAHABAT ANGIN



Angin merambat perlahan diatas dedaunan yang berserakan ditanah, hampir saja benda kesayangan ku yang tadi sore ku tinggalkan tak hanyut terbawa angin. Sore tadi aku dan adik-adik ku bermain boneka barbie dibawah pohon besar itu, kami tertawa riang, berlarian, menari, gokil deh…
Malam ini angin juga enggan bersahabat dengan ku, aku dibuatnya kedinginan, hampir menggigil, dan tak karuan rasanya. Sehingga aku dan keluarga ku harus tidur lebih awal. Suasana dingin ini ternyata ingin membuat kemarahanku membeludak. Karena dingin ini, aku dan adik-adik ku tak bermain bersama lagi di bawah pohon itu, karena ibu bilang hari akan hujan dan ibu bilang jika kami bermain hujan, kami akan sakit.
Lima hari berturut-turut angin dingin itu menyinggahi kampung ku. Terang saja, kampung ku dekat sekali dengan pantai. Pantai di kampung ku indaaah sekali, dan belum banyak dijamah oleh para pelancong. Pasir nya putih, air pantai nya biru, banyak sekali terumbu karang nya, jika dilihat dari atas, terumbu karang nya bisa diterawang dan hampir terlihat jelas. Koral-koral juga banyak hidup berdampingan, dan satu lagi makhluk laut favorit ku dan adik-adik, ikan buntal. Dan yang paling penting, warga kampung ku bisa menjaga kebersihan pantai. (heheheheh).
Selain pohon itu, pantai adalah tempat favorit ku bermain. Jika di pantai, tentu saja kami tak bermain boneka barbie, kami membuat istana pasir yang tak karuan bentuknya. Kak Juna selalu kami ajak jika kami hendak membuat istana pasir, karena Kak Juna adalah sang ahli membuat istana pasir. Pernah ketika ada lomba membuat istana pasir di kampung ku, Kak Juna adalah lawan terberat bagi seluruh peserta. Dan acapkali, Kak Juna adalah pemenangnya.
Kak Juna adalah kakak tertua kami, dan aku tertua kedua. Di rumah yang sering disebut Panti Asuhan ini, kami hidup bersama. Ada Ibu, Kak Juna, Aku, Adik-adik, Bibi, dan beberapa ekor ayam peliharaan kami.
Ibu bilang, delapan belas tahun lalu, seorang nenek mengantar ku kerumah kami, saat itu aku baru beberapa jam lahir, tubuhku masih merah, dan tali pusar ku juga belum terlepas. Aku menangis tiada henti. Nenek itu bilang, wanita yang melahirkan ku telah meninggal, sesaat setelah aku lahir dan suami dari wanita yang melahirkan ku juga telah meninggal, hanya tinggal nenek itu seorang. Tapi, nenek itu tak bisa merawatku, karena saat itu sedang terjadi pencarian keluarga para anggota PKI (Partai Komunis Indonesia), ayah ku adalah salah satu anggota PKI. Nenek itu takut jika aku ditangkap bersama nya, sehingga ia terpaksa memberikan aku pada Ibu.
Ibu juga bilang, aku tak usah mencari keluarga ku, karena mereka semua telah tiada. Ibu juga bilang, keluarga ku adalah mereka.
Aku mengetahui cerita itu, ketika umur ku hampir 17 tahun. Awalnya aku sangat terkejut dan merasa kalut, dilema dan galau. Tapi Ibu bilang, aku tak sendiri, selalu ada Allah dan ada mereka disamping ku.
“Ra…..” suara ibu memanggil ku.
“Ia bu, sebentar lagii…” jawab ku singkat.
Sore itu, aku mengajak adik-adik bermain di pantai tanpa Kak Juna, sehingga ibu sedikit lebih khawatir dan menyuruh kami cepat pulang.
“Dik, ayoo kita pulang, ibu sudah manggil..” ajak ku pada mereka.
“Sebentar lagi kak” bantah Ais manja.
“Ayoo lah, nanti ibu marah sama kakak, besok kita main lagi, kita main sama Kak Juna” ajak ku tanpa putus asa.
“Apa kak? Kak Juna? Besok kita main sama Kak Juna?” jawab Kiki penasaran. Karena Kak Juna sedang keluar kota untuk mengurus S2 nya.
“Ia, besok Kak Juna pulang, ayoo kita pulang” ajak ku lagi.
Mereka pun akhirnya terhipnotis juga dengan ajakan ku. Aku dan adik-adik pulang dengan pasir berserakan di wajah, baju dan tubuh kami. Tapi, bukan bermain di pantai jika tak pulang dengan oleh-oleh pasir.
Tiba nya dirumah, kami harus mandi. Lalu berpakaian rapi dan siap mengaji. Jika ibu berhalangan, Kak Juna yang biasa mengajar kami mengaji, tapi jika tak ada Kak Juna, aku deh yang harus mengajar mereka.
Mereka bilang, suara ku lebih merdu dibanding Kak Juna jika mengaji, jadi mereka lebih suka mengaji dengan ku dibanding dengan Ibu dan Kak Juna. (hehehehe, GR).

*******************

Jam hape ku berada pada 04:09 pagi. Aku tersentak bangun, lalu berniat Tahajjud. Aku bergerak perlahan agar adik-adik ku tidak terbangun. Tangan jam dinding kamar ku tak henti berputar, detik demi detik ia lalui melewati angka-angka yang bermakna itu. Hingga waktu Shubuh tiba. Adzan berkumandang dari beranda Mesjid dekat rumah kami, satu per satu adik-adik ku mulai terbangun dengan wajah yang masih terlihat ngantuk, mulut mereka masih menguap lebar. Lepas shalat Shubuh, kami berolahraga bersama, berjalan keliling kampung.
“Beberapa jam lagi, Kak Juna pulang, horeeee” teriak Ais pada kami.
Ia terlihat sangat bahagia karena Kak Juna akan pulang hari ini. Begitu juga dengan adik-adik lain, Ibu dan juga Bibi. Tentu saja aku tak kalah bahagianya.
Pagi ini, angin sangat bersahabat dengan ku. Ku titip kan salam rindu pada angin untuk disampaikan pada kakak kesayangan ku, Kak Juna. Bait demi bait salam rindu itu tersimpan dengan rapi di folder perasaan ku dan keluarga ku. Beberapa bulan Kak Juna pergi, sudah  terasa sangat lama sekali.
“Kak Juna, aku kangen” kata ku dalam hati.
Teriakan itu terdengar dari teras rumah kami, “assalamu’alaikum, ibuuuu”
Suara itu tak terdengar asing lagi ditelinga kami, itu suara Kak Juna, kakak kesayangan ku dan adik-adik. Kak Juna langsung peluk Ibu dan Bibi, lalu menghampiri kami. Kak Juna memeluk satu per satu adik-adik. Lalu beralih ke arah ku, ia memberi ku tangan nya untuk ku cium. Kak Juna bilang, aku sudah besar, jadi tak boleh aku di peluk. Kakak kesayangan ku itu tak banyak berubah, hanya saja ia kelihatan sedikit hitam dan kurusan. Tak lama setelah itu, Kak Juna mengajak kami bercerita.
“Waktu kakak di Surabaya, kakak berjumpa dengan  orang banyaaak sekali, kakak juga dapat teman yang sangat baik, dia mengajak kakak makan, membeli buku juga kakak diperbolehkan tidur dirumahnya” cerita Kak Juna panjang.
Adik-adik terlihat sangat antusias mendengar cerita kakak. Berbagai pertanyaan aneh mereka tanyakan, dan kakak juga tak kalah aneh nya menjawab pertanyaan mereka. Ibu benar, ini adalah keluarga ku, yaa mereka adalah keluarga ku. Mereka yang harus ku jaga dan harus ku bahagiakan.
“Dek Ra… “ suara Kak Juna memanggil ku.
“Ia kak, sebentar, aku lagi nyuci piring” jawab ku.
Setelah semua piring ku cuci, aku langsung menuju lokasi dimana kakak berada. Ternyata kakak mengajak ku ke pantai, namun tanpa adik-adik.
Ombak-ombak kecil yang mencoba merayu angin terlihat sangat manja, atau mungkin ia sedang tebar pesona pada burung-burung pantai. Sore itu, angin terasa sejuk sekali, dan sore itu hanya ada aku dan kakak di pantai. Aku juga tak tahu mengapa tak ada warga lain yang berada dipantai sore itu.
“Kak, kenapa tak ajak adik-adik?” tanya ku.
“Tak apa, biarlah mereka bermain sendiri” jawabnya singkat. Tapi ku pikir bukan itu alasan kakak yang sebenarnya mengapa tak ajak mereka. “masih suka angin kan dik?” tanya nya pada ku. “Tentu saja, angin masih menjadi sahabat ku, dan mungkin hanya angin yang akan selalu menemani ku kak” jawab ku dengan helaan nafas yang menarik angin ke dalam hirupan nafasku.
Sebelumnya tak pernah hanya ada aku dan Kak Juna di pantai, dan aku merasa sedikit heran dengan suasana kala itu, namun ku coba tepis kan saja pikiran ku itu. Kak Juna hanya diam sembari memandangi langit sambil merebahkan badan di atas pasir pantai putih sambil mengangkat tangan nya seakan ia menggambar sesuatu.
“Kakak sedang apa?” tanya ku heran.
“Kakak mencoba menggambar wajah mu” jawabnya dengan senyuman.
“Ahhh kakak ada-ada saja” lanjutku malu-malu.
Kak Juna diam lagi, kali ini terlihat matanya menahan air mata. Ku pandang wajah kakak ku itu dengan seksama. Seperti ada yang ingin ia utarakan pada ku.
“Kau tau, kakak sangat sayang pada keluarga kita, kakak tak ingin kehilangan kalian” kata Kak Juna sambil menghapus air mata yang tak mampu ia tahan.
“Kakak kenapa nangis? Kakak rindu sama kami? Kami juga rindu dengan kakak dan kami juga gak akan meninggalkan kakak sendiri, kan kita keluarga kak” kata ku mencoba untuk menenangkan perasaan nya.
Angin berhembus dengan lembut, mungkin hanya Tuhan dan angin yang bisa tahu apa yang sedang dirasakan kakak ku saat itu. Suasana yang hening di temani air pantai yang bening, dan kebeningan air pantai sebentar lagi akan menjadi cermin matahari. Tanda ia sebentar lagi akan tenggelam.
“Dik, apa kau tahu cinta?” tanya nya.
“Tentu saja, angin yang Tuhan berikan pada kita, itu cinta. Kasih yang Ibu berikan itu juga cinta. Dan semua hal yang kita lakukan pada adik-adik itu juga cinta.” Jawabku luas.
“Lalu kita?” tanya nya lagi.
“Maksud kakak? Aku tak mengerti apa maksud kakak?” jawabku dengan wajah yang sedikit jelek.
“Aku tahu, kau sayang pada adik-adik, dari dulu hingga sekarang kau selalu membantu Ibu dan menemani adik-adik. Tapi, kenapa kau tak memikirkan dirimu sendiri?” terang kakak.
“Tidak begitu kak, tentu saja aku memikirkan diri ku sendiri. Aku akan tetap lanjut kuliah, walau Ibu bilang ia tak bisa membiayai ku”. Paparanku pada kakak yang saat itu sangat aneh.
“Bukan itu maksud kakak. Soal itu kakak yakin kau akan terus lanjut belajar sampai kapan pun. Kakak tak tahu, perasaan apa ini, tapi sayang kakak pada mu berbeda dengan sayang kakak pada adik-adik kakak yang lain. Tapi sudahlah jangan kau pikirkan, biar kakak saja yang mencari tahu” jelas kakak pada ku.
Kami pun beranjak untuk kembali kerumah, karena sepertinya sang surya sudah letih menerangi kami siang tadi, ia pun seakan ingin istirahat dulu. Diperjalan pulang, kakak hanya diam, dan jika ku tanya sesuatu ia hanya menjawab seadanya.
Suasana Shubuh ini, terasa seperti biasa, dingin. Shalat Shubuh berjamaah pun akan di mulai, suara iqomah Kiki telah terdengar.
“Anak-anak ayoo cepat” terdengar suara Bibi memanggil kami yang sangat susah bangun tidur. “Ia biikkk” sahut Dinda.
Shalat Shubuh ini, Kak Juna yang menjadi imam. Aku masih bingung pada sikap Kak Juna kemarin sore. Aku juga tak mampu menebak apa maksud Kak Juna. Sungguh aneh kakak ku itu.
Siang ini, Kak Juna mengajak ku ke bawah pohon besar itu, tempat favorit kami bermain, bersama adik-adik. Aku juga merasakan getar-getir keanehan pada ajakannya kali ini. Dan anehnya lagi, suasana sangat sunyi, tak ada suara teriakan adik-adik, karena Dinda dan Ais masih sekolah, sementara Kiki. Bagas, Endut dan Puput sedang tidur siang.
Kami duduk diatas serakan daun yang gugur, gugur karena sentuhan angin. Atau mungkin karena kemarahan angin. Tapi, angin jarang marah pada ku, hanya saat itu saja.
“Kakak sayang pada mu dik, tapi tak sayang seperti adik-adik yang lain” Kak Juna memulai kata-kata yang membingungkan ku.
Aku hanya diam, mencoba memahami kata-kata Kak Juna.
“Angin tak butuh teman untuk mengampiri ombak, yang angin butuhkan hanya Tuhan” lanjut Kak Juna.
“Aku tak boleh bersahabat dengan angin?” tanya ku heran.
“Kakak tak bicara begitu” jawabnya singkat.
“Lalu apa maksud kakak? Kakak bilang angin tak butuh teman, apa aku teman yang merepotkannya kak?” kata ku sewot.
“Kau marah pada kakak?” tanya nya. Seakan ia takut jika aku marah.
“Tidak, aku hanya tak mengerti apa maksud kakak?” jawab ku kembali sewot.
Kak Juna menghela nafas dalam-dalam, lalu berkata “kakak cinta pada mu, tapi tak seperti cinta kakak pada adik-adik. Kakak mau kau menjadi istri kakak kelak”.
Aku melongo, aku kaget, seakan aku melayang dibawa angin yang melesat ke dunia ikan buntal. Lalu aku berlari meninggalkannya pergi. Arah tujuan ku, tak lain adalah pantai.
“Angin, apa yang harus ku katakan pada Kak Juna? Aku juga sangat menyayanginya, tapi aku tak tahu, sayang ku ini sama seperti dia pada ku atau tidak”.
Beberapa minggu, aku dan Kak Juna terlihat berbeda. Ibu, Bibi, dan adik-adik juga merasakan hal yang sama. Dan mengundang banyak pertanyaan mengapa kami berbeda
“Kak Juna sama Kak Chira marah-marahan ya?” tanya Endut.
“Tidak dik, mungkin Kak Juna lagi sariawan jadi malas bicara dengan kakak” jawab ku.
“Tapi, bicara sama aku dan yang lain mau kak?” tanya nya lagi.
“Mungkin, waktu bicara sama kalian sariawan nya Kak Juna lagi gak sakit” terang ku.
“Oohh gitu ya kak! Memang nya bisa gitu ya kak?” Tanya nya lagi, seakan ia tak puas akan jawaban ku.
“Ia. Sudahlah, kakak dan Kak Juna tak apa-apa” terang ku lagi.
Dua hari lagi Kak Juna akan pergi ke luar kota untuk mengurus mendaftar di kampus yang telah memberikan beasiswa padanya.
“Nanti setelah kakak lulus dan mendapatkan pekerjaan yang baik, kakak akan melamar mu dik. Ini bukan janji, tapi harapan kakak”. Isi surat yang kakak tulis untuk ku.

Kau bilang
Kau sahabat angin
Aku bilang
Angin tak butuh teman
Lalu kau marah
Jangan terlalu percaya pada angin
Percaya lah hanya pada Allah
Serpihan mozaik rindu akan ku titipkan pada angin
Karena ku tahu, angin akan jujur padamu
Adik ku

                                                                                                            (Kamis, 31 Januari 2013)

SATU TEGUKAN LAGI






Tirai-tirai kerinduan yang membuai sukma Mala semakin membuncah, tirai tipis yang terjalin dengan dua sosok yang menunggu di ujung jalan setapak yang penuh kerikil ini. Pancaran cahaya yang bersumber keikhlasan. Menata setiap perkakas kosong lalu mengisi nya, mencoba memecahkan teka teki disetiap perkakas kosong itu. Dua sosok yang mengabdi pada Tuhan untuk memelihara Mala dan adiik perempuan nya. dua sosok yang tak pernah padam sinar  perhatiaanya pada Mala dan adiknya.
Sekarang Mala telah 18 tahun, bukan umur yang sedikit untuk mengerti apa arti kehidupan yang sebanranya. “Hidup adalah syukur dan syukur karena Allah”. Mungkin itu kalimat yang ada pada paradigm Mala saat ini. Hidup untuk memberi bukan diberi.
Mala menyadari bahwa setiap langkah nya, setiap tirai yang coba ia sulam, ada benang kasih dari sosok-sosok itu. Ada selalu kata-kata bijak yang ia tanamkan pada Mala.
Setiap hari ayah bekerja, walau hari minggu. Ayah bekerja keras untuk keluarga nya, terkhusus untuk anak-anak nya. ayah bekerja sebagai penjahit. Ayah juga menerima jika ada yang menjual biji kakao kering. Terkadang ayah juga bertani, Alhamdulillah ada beberapa ladang yang harus ditanami. Mala tahu, ayah pasti letih sekali, Mala tahu dari baju kotor ayah yang ia cuci, aroma keringat ayah tercium dalam, pertanda sudah banyak keringat yang telah keluar.
Ayah adalah bapak yang baik, suami yang sayang pada ibu, juga anak yang baik untuk nenek. Ayah ku, ayah nomor satu. Mala kasihan pada ayah, kenapa ayah memiliki anak seperti Mala, padahal Mala tak bisa memberi apapun pada ayah. Kasihan ayah, harus bekerja setiap hari demi anak yang jarang menuruti pinta nya. tak jarang Mala memoncongkan bibirnya karena ia tak mendapat apa yang di pinta nya. kasihan ayah…
Keletihan ayah terbiaskan oleh senyuman kebanggaan yang ia tujukan pada Mala. Walau hanya hal kecil yang Mala lakukan, ayah  sangat sayang pada Mala.
Setiap pagi, ada secangkir teh hangat yang yang tersedia di atas meja makan, terkhusus untuk ayah. Secangkir teh itu telah menjadi sahabat lawas ayah. Minum teh dengan perlahan dan selalu menyisahkan satu tegukan. Kata ayah, biar lah satu tegukan teh manis itu untuk para semut. Dan kenyataannnya, tak lama ayah meninggalkan gelas dengan satu tegukan the manis itu langsung di hampiri oleh tuan semut beserta keluarga dan para sahabatnya.
“Hidup itu untuk memberi bukan diberi” Kata ayah.
 Sejak ayah dan ibu menikah, ayah sudah bekerja keras, bahkan sebelum ayah menikah. Pernak suatu ketika, tak ada orang yang menjahit pada ayah, ayah harus berjalan jauh agar mendapat seseorang yang mau menjahitkan pakaian pada ayah. Berhari-hari ayah pergi, melintasi daratan dan menyebrangi lautan. Kala itu, ibu sedang mengandung Mala.
Malam itu, lepas Shalat Maghrib, Mala hanya tiduran di tempat tidur sembari memegangi perut nya dengan wajah sedikit pucat dan tubuh yang dingin. Lalu ibu masuk ke kamar  Mala karena heran kenapa tak ada suara Mala terdengar mengaji.
“Lho kakak kenapa?” Tanya ibu khawatir.
Mala hanya diam, karena menahan sakit perut nya.
Wajah ibu terlihat sangat khawatir, ibu pun menyuruh adik untuk membelikan obat sakit perut untuk Mala. Lalu adik berlari, walau ada rintik-rintik air langit, adik tetap berlari untuk membeli obat untuk Mala. Di kamar, bersama ibu, ayah memijat kepala Mala. Dengan sentuhan lembut dari ibu dan ayah juga perhatian dari adiknya membuat Mala semangat untuk sembuh.
Esok harinya Mala merasakan semilir angin pagi dengan balutan air langit yang turun dengan manja, mencoba merayu rumput-rumput kecil untuk di tumpanginya menginap shubuh ini. Dengan sambutan yang hangat sang rumput memberikan tubuhnya untuk air langit itu.
Ayah dan ibu terlihat khawatir dan tidak membolehkan Mala untuk pergi kuliah hari ini.
“Kalau masih sakit jangan kuliah dulu kak” kata ibu.
“Ia kak, jangan ya, di rumah aja dulu” sambung ayah.
“Gak papa kok bu yah, Mala uda sehat” jawab Mala.
“Ayah antar ya” ayah menawarkan Mala untuk mengantar Mala.
“Ia yah..” seru Mala.
Tradisi pagi ayah selalu di lakukannya. Secangkir teh hangat yang manis dan menyisahkan satu tegukan terakhirnya untuk para semut. Hal itu dianggap ayah sebagai “berbagi rezeki”. Mala berpamitan pada ibu dan adik lalu berangkat ke kampus dengan diantar oleh ayah tersayang.
Di perjalanan, angin pagi terasa menusuk-nusuk tulang Mala. Mungkin ayah juga merasakan tusukan angin pagi ini. Belum banyak aktor-aktor jalan raya yang beradu. Jalan masih terlihat sepi, bahkan beberapa lampu jalan masih ada yang masih menyala. Di sudut kota, terlihat sekumpulan gurung pipit sedang bernyanyi atau mungkin hanya berbincang dengan temannya.



                                                                                                  Medan, februari 2013