Tirai-tirai kerinduan yang membuai
sukma Mala semakin membuncah, tirai tipis yang terjalin dengan dua sosok yang
menunggu di ujung jalan setapak yang penuh kerikil ini. Pancaran cahaya yang
bersumber keikhlasan. Menata setiap perkakas kosong lalu mengisi nya, mencoba
memecahkan teka teki disetiap perkakas kosong itu. Dua sosok yang mengabdi pada
Tuhan untuk memelihara Mala dan adiik perempuan nya. dua sosok yang tak pernah
padam sinar perhatiaanya pada Mala dan
adiknya.
Sekarang Mala telah 18 tahun, bukan
umur yang sedikit untuk mengerti apa arti kehidupan yang sebanranya. “Hidup
adalah syukur dan syukur karena Allah”. Mungkin itu kalimat yang ada pada
paradigm Mala saat ini. Hidup untuk memberi bukan diberi.
Mala menyadari bahwa setiap langkah
nya, setiap tirai yang coba ia sulam, ada benang kasih dari sosok-sosok itu. Ada
selalu kata-kata bijak yang ia tanamkan pada Mala.
Setiap hari ayah bekerja, walau hari
minggu. Ayah bekerja keras untuk keluarga nya, terkhusus untuk anak-anak nya.
ayah bekerja sebagai penjahit. Ayah juga menerima jika ada yang menjual biji
kakao kering. Terkadang ayah juga bertani, Alhamdulillah
ada beberapa ladang yang harus ditanami. Mala tahu, ayah pasti letih sekali,
Mala tahu dari baju kotor ayah yang ia cuci, aroma keringat ayah tercium dalam,
pertanda sudah banyak keringat yang telah keluar.
Ayah adalah bapak yang baik, suami yang
sayang pada ibu, juga anak yang baik untuk nenek. Ayah ku, ayah nomor satu.
Mala kasihan pada ayah, kenapa ayah memiliki anak seperti Mala, padahal Mala
tak bisa memberi apapun pada ayah. Kasihan ayah, harus bekerja setiap hari demi
anak yang jarang menuruti pinta nya. tak jarang Mala memoncongkan bibirnya
karena ia tak mendapat apa yang di pinta nya. kasihan ayah…
Keletihan ayah terbiaskan oleh senyuman
kebanggaan yang ia tujukan pada Mala. Walau hanya hal kecil yang Mala lakukan,
ayah sangat sayang pada Mala.
Setiap pagi, ada secangkir teh hangat
yang yang tersedia di atas meja makan, terkhusus untuk ayah. Secangkir teh itu
telah menjadi sahabat lawas ayah. Minum teh dengan perlahan dan selalu
menyisahkan satu tegukan. Kata ayah, biar lah satu tegukan teh manis itu untuk
para semut. Dan kenyataannnya, tak lama ayah meninggalkan gelas dengan satu
tegukan the manis itu langsung di hampiri oleh tuan semut beserta keluarga dan
para sahabatnya.
“Hidup itu untuk memberi bukan diberi”
Kata ayah.
Sejak ayah dan ibu menikah, ayah sudah bekerja
keras, bahkan sebelum ayah menikah. Pernak suatu ketika, tak ada orang yang
menjahit pada ayah, ayah harus berjalan jauh agar mendapat seseorang yang mau
menjahitkan pakaian pada ayah. Berhari-hari ayah pergi, melintasi daratan dan
menyebrangi lautan. Kala itu, ibu sedang mengandung Mala.
Malam itu, lepas Shalat Maghrib, Mala hanya
tiduran di tempat tidur sembari memegangi perut nya dengan wajah sedikit pucat
dan tubuh yang dingin. Lalu ibu masuk ke kamar
Mala karena heran kenapa tak ada suara Mala terdengar mengaji.
“Lho kakak kenapa?” Tanya ibu khawatir.
Mala hanya diam, karena menahan sakit
perut nya.
Wajah ibu terlihat sangat khawatir, ibu
pun menyuruh adik untuk membelikan obat sakit perut untuk Mala. Lalu adik
berlari, walau ada rintik-rintik air langit, adik tetap berlari untuk membeli
obat untuk Mala. Di kamar, bersama ibu, ayah memijat kepala Mala. Dengan
sentuhan lembut dari ibu dan ayah juga perhatian dari adiknya membuat Mala
semangat untuk sembuh.
Esok harinya Mala merasakan semilir
angin pagi dengan balutan air langit yang turun dengan manja, mencoba merayu
rumput-rumput kecil untuk di tumpanginya menginap shubuh ini. Dengan sambutan
yang hangat sang rumput memberikan tubuhnya untuk air langit itu.
Ayah dan ibu terlihat khawatir dan
tidak membolehkan Mala untuk pergi kuliah hari ini.
“Kalau masih sakit jangan kuliah dulu
kak” kata ibu.
“Ia kak, jangan ya, di rumah aja dulu”
sambung ayah.
“Gak papa kok bu yah, Mala uda sehat”
jawab Mala.
“Ayah antar ya” ayah menawarkan Mala
untuk mengantar Mala.
“Ia yah..” seru Mala.
Tradisi pagi ayah selalu di lakukannya.
Secangkir teh hangat yang manis dan menyisahkan satu tegukan terakhirnya untuk
para semut. Hal itu dianggap ayah sebagai “berbagi rezeki”. Mala berpamitan
pada ibu dan adik lalu berangkat ke kampus dengan diantar oleh ayah tersayang.
Di perjalanan, angin pagi terasa
menusuk-nusuk tulang Mala. Mungkin ayah juga merasakan tusukan angin pagi ini.
Belum banyak aktor-aktor jalan raya yang beradu. Jalan masih terlihat sepi,
bahkan beberapa lampu jalan masih ada yang masih menyala. Di sudut kota,
terlihat sekumpulan gurung pipit sedang bernyanyi atau mungkin hanya berbincang
dengan temannya.
Medan, februari 2013

No comments:
Post a Comment