Langkah
awal pada lembayung fajar terbenam sudah, menata kenangan pada ujung rok
abu-abu. Sekarang ia telipat rapi dalam lemari, yang mungkin takan di sentuh
oleh Nada. H-1 menuju gerbang kampus impian. Jika kau tahu helaian daun yang
gugur, ingat lah pada hujan yang menguyur, rentangkan tangan, lalu terbang,
lalu menari, sampai kau lelah, hingga kau terbangun dari tidur malam itu.
“Nadaa…”
panggil ibu dari balik pintu kayu kamar yang hampir rapuh.
Karena
ibu tak mendengar sahutan Nada, jadi ibu mengulang panggilannya, Nada pun
tersentak bangun karena mendengar suara Ibu.
“Ia
ibu, Nada sudah bangun..”
“Ayo
Sholat Subuh dulu nak..”
“Ia
ibu…”
Air
terasa beku, dinginnya merangkak hingga ubun-ubun Nada, karena hujan malam
tadi. Jemari-jemari mungilnya keriput, tanda ia kedinginan. Air wudhu masih
melekat pada bulu-bulu tangan nya, membuka mata kantuknya.
Nada
sudah niat, ba’da shalat ia akan mengerjakan tugas harian, membuat sarapan. Dua
raka’at sebelum Shubuh, lalu dilanjutkan dengan Shalat Fardu Subuh. Semangat
pagi Nada membara dengan riang. Nanti, puluk 07.00 ia akan melajukan sepeda
motor nya menuju kampus berkarakter.
Masa
terindah mungkin akan dimulai, dengan arakan semangat dan lembayung pulau-pulau
pengabdian dan kepercayaan, esok akan dipikul beban dengan kuota maksimal. Harapan
keluarga pada Nada.
Kini
gerbang itu tampak di depan mata, berdiri tegak dengan tiang-tiang yang perkasa
yang hitam. The Character Building
University.UNIMED.
Nada
berjalan dengan sumringah menatap sudut demi sudut pohon yang kekar. Dari
kejauhan, terlihat banyak orang berjalan terburu-buru seakan mengejar gaji
bulanan, atau mengejar bantuan dari Pemerintah. Nada dengan santai berjalan
dengan pasti, ia sengaja berjalan pelan, agar pelosok-pelosok kampus baru nya
bisa ia kenali.
“Assalamu’alaikum..
adik..” sapa seseorang di belakang Nada.
“Wa’alaikum
salam, ehh kakak, kakak siapa? Tanya Nada heran.
“Kak
Nisa dik, adik Nada kan? Tanya nya lembut sambil menyalami Nada.
“Ia
kak, kita pernah jumpa waktu Nada daftar ulang kan kak?” lanjut Nada.
“Ia
dik,” jawab nya sambil tersenyum.
Wajah
nya teduh, senyumnya juga manis, sentuhan nya lembut, nada bicara nya terarah,
sepertinya dia memiliki paradigma yang unik. Dan unik untuk ditelusuri dan penelusuran
akan dimulai sekarang.
Angin
mencoba menggoda Nada, suara kehangatan pada pelosok hatinya mancuak ekstrim.
Sebagai hari perdana menjadi mahasiswa.
Nada dan kak Nisa yang kebetulan satu jurusan berjalan bersama menuju fakultas
tercinta.
Jadi,
saat Nada daftar ulang, kak Nisa yang menjadi pewawancara nya. Nada seperti di
introgasi, seperti nara sumber gitu diangggap oleh Kak Nisa. Karena Nada masuk
di Jurusan PKn, jadi Kak Nisa bertanya tentang rumpun PKn. Mulai dari
perkembangan hukum Indonesia sampai perilaku politik warga Negara juga pejabat
negara.
Saat
itu, Nada sangat bingung menjawabnya, karena Nada tidak menyukai politik, Nada
juga berasal dari jurusan IPA sewaktu SMA. Jadi, Nada hanya bisa menjawab yang
pernah ia lihat TV.
“Politik
adalah cara seorang pejabat mengelabui massyarakat” jawab Nada.
Kak
Nisa tersenyum dan berkata, “Politik itu cara seeorang untuk memperbaiki
kehidupan, yang tujuannya agar lebih baik lagi, misalnya saja, ketika
berperang, Rasulullah punya strategi perang kan, nah strategi itu disebut
politk, tepatnya politik dalam perang”.
“Jadi
gimana, sudah mengerti adik?” lanjutnya.
Nada
tersenyum dan mengangguk.
“Ya
sudah, ini isi dulu”. Kata Kak Nisa sambil memberi buku dengan kolom-kolom yang
harus diisi.
“Adik
kenapa milih jurusan PKn?”
“Ia
kak, sedikit terpaksa”. Jawab ku, sambil bercanda.
Kak
Nisa hanya tersenyum.”Jadi iklas tidak belajar di PKn?”
“Iklas
kak InsyaAllah..” jawab Nada mengerutu.
***
Sekarang
Nada dan Kak Nisa tiba di depan pintu besar jurusan. Kak membantu Nada mencari
kelas, 38.13 tertulis pada roster Nada. Kak Nisa langsung mengantar Nada di
ruang kelas bernomor itu.
“Ini
dik kelasnya, kakak pamit ya, mau nyari kelas juga”
“Ia
kak, terima kasih ya kak..”
Kak
Nisa hanya tersenyum lagi, lalu berjalan menuju kelas nya. Nada masih berdiri
di depan pintu, memperhatikan Kak Nisa yang hamper tak tampak, alunan jilbab
nya masih terlihat, hijau muda dengan bunga merah pada bagian belakang jilbab
nya.
“Maaf
mbak, ini kelas 38.13 gak?”. Suara itu melenyapkan lamunan Nada akan Kak Nisa.
“Eehh,
ia mbak. Mbak juga mahasiswa baru?” Tanya Nada.
“Ia
mbak, nama mbak siapa, kita duduk sama yokk” ajak perempuan itu.
“Nama
ku Nada, nama kamu?”
“Aku
Tisa” jawabnya sambil mengulurkan tangan nya.
Sejak
perkenalan itu, kami sering berdua kemana-mana. Tisa adalah teman yang baik,
ia juga sering membantu ku membuat
makalah dan mengerjakan tugas lainnya. Tisa pernah bilang pada Nada, “berteman itu untuk memberi, bukan diberi”.
Nada beruntung memiliki teman seperti Tisaa.
Seiring
waktu berjalan, Nada mulai mengenal keputrian,
dan sepertinya ia mulai nyaman dalam lingkaran itu. Kakak–kakak di keputrian
sangat ramah, menarik, dan memiliki paradigma yang tak jauh berbeda dengan Kak
Nisa. Aku juga sering mengajak Tisa, namun Tisa sering menolak dengan banyak
alasan. Hanya sekali saat itu Tisa berkenan hadir dalam acara fakultas ini.
Yang
semula Nada kira organisasi, ternyata di balik itu ada tugas besar yang
diemban, yaitu dakwah. Ia, dakwah. Sungguh berat tugas itu, berada di pundak,
kadang penat, kadang risau dengan tugas kuliah, kadang letih namun tak boleh
bosan.
Terkadang
Nada harus lari-lari mengejar jam syuro’ yang harus dihadiri, lalu pulang
hingga petang. Hingga dirumah Nada tak sempat membantu Ibu memasak dan
menjemput adik. Sehingga terkadang wajah ibu terlihat sebel pada Nada. Nada
juga sering merasa keluarganya menjauh, adik-adik tak pernah bercerita tentang
sekolah dan teman-temannya lagi, Ibu juga jarang bercerita tentang kenakalan
adik-adik pada Nada. Terkadang rumah seperti gua asing, yang terdengar gaungan
nya namun tak dikenali, seperti orang asing yang sedang numpang tidur, atau
bahkan hanya seonggok daging yang bergerak namun tak bernyawa.
Suatu
ketika, ibu bertanya pada Nada tentang penampilan Nada yang berdeda seperti
biasa. Jilbab Nada lebih rapi dan baju nya juga mulai longgar.
“Kenapa
seperti itu jilbab nya nak?”
“Ia
bu, biar lehernya tidak terlihat, tambah cantik kan anak Ibu…” canda Nada.
Ibu
hanya tersenyum, lalu berlalu meninggalkan Nada. Sepertinya Ibu tidak marah
terhadap penampilan barunya. “Semoga Ibu tidak marah” kata Nada dalam hati.
Nada senyum senyum sendiri melihat gambar dirinya dalam cermin, berbingkai
jilbab. “Istiqomah terus ya adik kakak”, suara itu mengiang dalam ruang pikiran
Nada. Kak Nisa sering sekali berkata itu pada Nada, Kak Nisa juga yang mengajak
Nada belajar dalam dekapan ini. Dan ini
adalah tahap awal Nada belajar dakwah, bahwa dakwah itu penting. Dakwah itu
asyik dan dakwah itu belajar.
Prestasi
di kelas, setelah bergabung dalam dekapan ini, Nada ssedikit lebih berani
berargumen, sedikit gemar membaca, dan sedikit lebih membulatkan tekad.
Sekarang Nada tak mau menyiakan waktu luang nya, ya walaupun sekarang Tisa
sedikit menjauh darinya. Namun, Tisa masih memberi perhatian pada Nada, Tisa
sering mengingatkan makan siang dan mengingat kan shalat.
“Da,
Tisa boleh Tanya?” kata Tisa sembari berbisik.
“Boleh,
Tisa mau Tanya apa? Tanya aja sa…”.
“Nada
kenapa sekarang berubah? Jarang maen sama Tisa lagi, kita juga sekarang jarang
diskusi, terus jilbab Nada kenapa?”
Nada
tersenyum, “ Nada gak berubah kok, tapi maaf ya akhir-akhir ini Nada agak
jarang bareng Tisa, masalah jilbab, ini supaya leher nya gak menerawang sa”.
“Oh
ia ya da, leher Tisa kelihatan da?”
“Ia
sa, double aja jilbab nya sa”
“Emang
bisa da? Ajarin Tisa ya..”
“Ia
sa pasti. Besok Nada singgah ke kos Tisa ya”
“Ia
da, makasih ya. Yok kita masuk kelas” sambil memegang tangan Nada.
Keheningan
beberapa hari yang lalu kini memudar, Nada senang sekali karena sahabat nya
bisa mengerti. Tisa itu pintar, namun dia masih polos, sehingga terkadang ada
teman yang usil padanya. Tak jarang dia juga menangis. Dan saat itulah Nada
beraksi sebagai jagoan, hahahah Nada 008 beraksi.
Satu
pukulan terhempas pada bagian punggung lelaki-lelaki dekil itu. Para lelaki di
kelas tak ada yang berani dengan Nada, karena Nada waktu SMA adalah anggota
silat, jadi masih tertanam jiwa keperkasaan nya. (hhe, acem betol aja).
Mata
perangai dalam balutan sukma nurani ternyata lebih nyata dibanding beraksi
namun tak jelas. Daun-daun pohon saga berserakan, menutupi tanah kering yang
berpenghuni, marajut tepi demi tepi ketegaran asa, hingga ia terlihat nyata
walau dengan mata tertutup. Gairah untuk tetap disini mengajak berpergian ke
dermaga syahdu, mengajak rehat sejenak karena lelah.
Kak
Nisa selalu bilang, “Jika kita lelah, ucapkan takbir dalam hati, jika masih
lelah, ucapkan lagi dan lagi, hingga lelah itu pergi dalam diri kita, hingga
semangat itu hadir dalam diri kita, hingga kaki kita bisa beranjak pergi untuk
melanjutkan kewajiban ini. Ayo semangat adik kakak”. ALLAHU AKBAR…
Semangat
Nada akan terus membakar jiwanya, namun ketika dirumah, ketika ia tatap wajah
keluarganya, itu pergi, semnagat itu sekan berubah menjadi
sebab kerenggangan ini. Saat dirumah,
Nada hanya bisa diam dengan teguran-teguran itu, yang mempojokkan dirinya.
“Ayah,
Ibu kenapa? Ibu gak sayang sama Nada sekarang ya yah?”
“Tidak
begitu, ajak saja Ibu bicara, dia hanya ingin kau perhatian padanya seperti dulu,
sabar ya nak” kata Ayah sambil mengelus kepala Nada.
“Ia
ayah, terima kasih ya yah”.
“Ia
nak, sudah lah belajar sana” kata lelaki paruh baya itu.
Nada
langsung beranjak dari kursi, lalu melaju pada ruang berwarna hijau muda dengan
hiasan boneka ulat warna warni. Semnagat sang ulat seakan tak mampu
ter-transfer pada memori Nada, badannya terasa lemah, dan sangat lelah.
Esoknya
ketika Nada bangun tidur, terasa kepalanya berat sekali dan matanya sukar di
buka, badannya kaku seakan tak bergerak. Dan ketika matanya bisa di buka,
terlihat suster di samping nya sedang membenarkan infus Nada.
“Ibu…”
katanya peluh.
“Adik
sudah sedar? Sebentar saya panggilkan Ibu nya ya” kata suster itu.
Suster
itu langsung beranjak keluar dan memanggil Ibu. Tak lama kemudian Ibu dan ayah
masuk menemui Nada.
“Nak,
apa nya yang sakit?” kata ibu.
Nada
hanya diam dan memandangi wajah Ibu yang terlihat sangat khawatir akan dirinya,
Nada hanya menggelengkan kepalanya.
“Nada
tidur aja ya, biar Ibu kusuk biar gak capek lagi,” kata wanita itu dengan nada
cemas nya.
“Nada
eeeng gak capek bu” kata Nada peluh. Kosakata yang ia ucapkan belum sempurna,
massih terbata-bata. Seakan lidahnya masih kaku digerakkan. Seharian ia tidur
tanpa reaksi apapun, sehingga membuat keluarga nya khawatir. Ibu mengusuk
tangan Nada dengan lembut, sambil mengusap keringat di dahinya, sesekali
mengusap kepala Nada dengan kasih sayang.
Sebenarnya
Ibu tak pernah marah pada Nada, apalagi sampai tak sayang Nada lagi, hanya saja
Ibu terlalu khawatir dengan kondisi Nada yang sekarang sudah sangat padat dan
melampaui kegiatan Ayah dan Ibu.
“Ibu,
jangan beri tau Tisa ya bu” kata Nada.
“Ia
nak, ibu hanya memberi tahu dosen mu saja, dan izin bahwa Nada beberapa hari
ini tidak bisa masuk” kata Ibu.
“Terima
kasih ya bu”
Beberapa
hari Nada di rumah sakit, rasanya bosan dan terkekang banget. Makan di suapin,
ke kamar mandi dianterin, tidak nyaman sangat.
Rasa
rindu pada alunan kerudung Kak Nisa, pada manjaan Tisa, dan dekapan itu. Terasa
hilang semua terbawa angin yang mengalun keras. Merampas sejenak aktivitas Nada
yang menjadi kebutuhannya, menunaikan kewajiban itu, dan merdiskusi dengan
onggokan-onggokan sukma yang luar biasa.
Hari
ini, Nada keluar dari rumah sakit. Suasana fisik nya sudah membaik, berikut
dengan keadaan psikis yang sudah sangat rindu akan dekapan itu. “Jika, tidak
bersama dakwah, maka kita dengan siapa lagi?”
Itu
alasan mengapa Nada ingin terus berada dalam dekapan itu, bergandeng bersama
mengemban amanah dalam dekapan ukhuwah. Ukhuwah yang sejati.
Begitu
sampai dirumah, perkataan ibu mengagetkan Nada, pikirannya melayang seakan
dunia berputar hebat dengan kekuatan ekstra.
“Nada
jangan pakai jilbab yang seperti itu lagi ya nak, Nada juga tidak di izinkan
pulang petang lagi”.
“Kenapa
bu???”
“Ibu
tidak mau Nada sakit lagi, Nada terlalu sibuk dengan urusan kampus, sampai
sampai melupakan kesehatan sendiri”.
“Tidak
bu, Nada janji tidak akan sakit lagi, asalkan Nada diizinkan pakai jilbab
sseperti biasa dan tetap mengikuti kegiatan kampus bu, ya bu ya, Nada janji akan
jaga kesehatan bu, Ibuuu…” kata Nada sambil memegang tangan Ibu.
“Keputusan
Ibu sudah bulat, tidak bisa ditawar-tawar lagi”.
Lalu
Ibu pergi meninggalkan Nada dikamar sendirian.
Isak
tangis tak tertahan kan lagi, seakan dirinya seperti beku tak mampu bernafas
dengan tenang, pikirannya melayang, menyapu angan di balik tirai merah muda
itu, membalikkan asa keras yang dulu merasukinya. Kini perasaan itu muncul,
takut.
Langsung
ia arhkan tangan pada buffet kecil lalu mengambil hp yang telah lama ia
tingglkan. Banyak panggilan tidak terjawab dan pesan masuk dari Tisa, Kak Nisa
dan bberapa teman yang lain. Ia arakhan pada nama Kak Nisa, Nada sudah tak
tahan, ingin segera berbincng dengan Kak Nisa, ingin segera menangis di pundak
nya.
Tuuuuuuuuuuuuuutttttttttttttttttttt…………..
Tak
ada jawaban dari Kak Nisa. Nada ingat akan pesan Kkak Nisa, “mengadu pada Allah
dan selalu istiqomah”. Tanpa pikir panjang Nada langsung berwudhu dan
melaksanakan shalat isya. Air matanya terus mengalir, “Allah, kenapa sekarang
seperti ini, maaf kan Nadda jika selama ini Nada terlalu futur, terlalu terlena
akan keindahan dunia, terlalu sok sibuk sehingga melupakan tugas dirumah, tapi
Allah tolong jangan buat Ibu seperti ini. Nada sedih, Allah Nada gak mau jauh dari
Allah, Nada sayang Allah”.
Tanpa
sedar, ia pun tertidur dengan mukenah yang masih ia kenakan. Dalam tidur nya
ada sekerlip mimpi, dalam mimpi itu, Nada bisa berteman dengan angin, Nada
diajak berkeliling oleh angin, Nada juga diajak ke pantai dengan pasir putih
dan tupukan krikil dan pecahan karang.
Beberapa
jam tertidur, Nada pun tersentak bangun karena teringat akan beban pikiran yang
ia hadapi sekarang. Hatinya sedikit agak tenang dan terkontrol.
Pagi
ini, Nada tetap mengenakan jilbab seperti biasa, walau ia tahu Ibu akan
melarangnya, atau mungkin akan menggatikan jilbab Nada. Belum lagi, jika Nada
nanti hendak pergi, pasti Ibu akan berkata jangan pulang petang dan jika sudah
selesai kuliah langsung pulang.
Sudahlah,
ini bukan masalah. Ini harus Nada hadapi, dan InsyaAllah ini benar.
Nada
beranikan untuk keluar kamar. Dan menuju meja makan untuk sarapan. Dan ternyata
benar, Ibu menampakkan wajah kesalnya pada Nada.
“Kenapa
tidak nurut kata-kata Ibu? Sudah tidak mau dengar kata Ibu lagi?” kata Ibu dengan
suara pertanda peluh.
“Ibu
kok gitu bicaranya? Nada dengar kata Ibu, tapi bu maaf untuk yang ini Nada tidak bisa bu. Ibu jangan marah
sama Nada ya”. Kata Nada setenah mengiba.
Ibu
menggelengkan lalu beranjak dari tempat itu. Angin kembali mengajak Nada dalam
keheningan, walau mentari baru beranjak dari tempat istirahatnya namun seakan
ia mulai letih lagi. Air mata Nada turun lagi, “Allah, kenapa ini terjadi pada
ku?” Tanya nya dalam hati.
Seketika
itu, suara hp Nada terdengar, pertanda ada pesan masuk,
Asslamu’alaikum dik,
Bagaimna keadaan _y? ingat lah,
jalan dkwah tidak semulus jlan tol, terkadang ada duri yg hrus qt hadapi
dijalan itu, penat & lelah. Adik k3 yg kuat ya…
Tntangan pst ad dik,
Keep istiqomah, innalaha ma’ana.
Itu
pesan dari Kak Nisa. Kakak kesayangan Nada, kakak yang sering menemani Nada
walau tanpa sosok nyata nya. Sholehatunnisa,
itu namanya.
Setelah
sarapan, langsung Nada pamitan pada Ibu. Ibu hanya mengangguk dan tak berkenan
menerima salam Nada. Nada kembali
tersedih, bibirnya mancung kedepan, namun harus tetap seperti ulat, tegar dalam
proses yang harus dijalani hingga ia mampu terbang dengan sayap nya sendiri.
Sampai
suatu ketika, kemarahan Ibu mencuak, hingga Nada sangat ketakutan. Secara
refleks Nada melarikan diri dari rumah. Dan tujuana Nada adalah kost Kak Nisa.
Nada menagis se nangis-nangisnya. Dan Kak Nisa tanpa bosan untuk menenagkan
adiknya itu.
“Sabar
ya dik, Allah tidak akan menguji kita diluar batas kemampuan kita dik, adik
mendapat ini karena Allah tau, adik bisa dan kuat”, Kak nisa sembari memeluk
Nada.
Ketika
itu juga, Ibu Nada datang dan menyuruh nya pulang dengan memaksa dan menarik
tangan Nada.
“Tidak
bu, Nada tidak mau” kata nya sambil terisak-isak.
Nada
pun menuju pintu dan keluar mencoba untuk lari. Begitu juga Ibu yang terus
mengejar Nada.ketika sampai di ujung jalan, Nada tak melihat ada kendaraan yang
melaju begitu kencang, hingga akhirnya ia terseungkur, tertabrak dan berlumuran
darah.
“Anakk…
ku” kata Ibu.
Nada
sudah tidak bergerak lagi. Mata nya terpejam dan tangan nya menggemgam sebuah
kertas putih kecil. Gengggaman itu terbuka, di kertas itu tertulis, “Ibu, aku menyayangimu karena Allah”.
Ibu
sangat menyesal, selalu meyalahkan diri sendiri akan hal itu. Jika ia tak egois
dan mengizinkan anak nya berada dalam jalan koridor ini.
Sekarang
Nada telah tidur tenang, tapi apakah berarti jalan dakwah ini sampai disini???.
Hari ini,
Daun terakhir pohon pinus gugur
Menutupi gerak ulat dibawahnya
Mencengkeran tanah dengan kerasnya
Hari ini,
Asa letih terbayar sudah
Merayap pada sukma sang pujangga
Kini ia merangkai sajak bunga
rampai akhir
Esok, akan ada tamu
Melihat si ulat yang tertidur
Ia beranjak pada proses
Menjadi kepompong
Mungkin lusa akan terbang
Walau pada dunia yang lain
Dekapan ini terpampang rapi dalam
tiap selaput-selaput darahnya
Menggulung kelemahan karena bosan
Kini, ia masih kepompong.
Nada setia dalam dekapan ini.
Walau irama itu terdengar pilu
Dan menyesallan
MEDAN,
15 Maret 2013
Langkah
awal pada lembayung fajar terbenam sudah, menata kenangan pada ujung rok
abu-abu. Sekarang ia telipat rapi dalam lemari, yang mungkin takan di sentuh
oleh Nada. H-1 menuju gerbang kampus impian. Jika kau tahu helaian daun yang
gugur, ingat lah pada hujan yang menguyur, rentangkan tangan, lalu terbang,
lalu menari, sampai kau lelah, hingga kau terbangun dari tidur malam itu.
“Nadaa…”
panggil ibu dari balik pintu kayu kamar yang hampir rapuh.
Karena
ibu tak mendengar sahutan Nada, jadi ibu mengulang panggilannya, Nada pun
tersentak bangun karena mendengar suara Ibu.
“Ia
ibu, Nada sudah bangun..”
“Ayo
Sholat Subuh dulu nak..”
“Ia
ibu…”
Air
terasa beku, dinginnya merangkak hingga ubun-ubun Nada, karena hujan malam
tadi. Jemari-jemari mungilnya keriput, tanda ia kedinginan. Air wudhu masih
melekat pada bulu-bulu tangan nya, membuka mata kantuknya.
Nada
sudah niat, ba’da shalat ia akan mengerjakan tugas harian, membuat sarapan. Dua
raka’at sebelum Shubuh, lalu dilanjutkan dengan Shalat Fardu Subuh. Semangat
pagi Nada membara dengan riang. Nanti, puluk 07.00 ia akan melajukan sepeda
motor nya menuju kampus berkarakter.
Masa
terindah mungkin akan dimulai, dengan arakan semangat dan lembayung pulau-pulau
pengabdian dan kepercayaan, esok akan dipikul beban dengan kuota maksimal. Harapan
keluarga pada Nada.
Kini
gerbang itu tampak di depan mata, berdiri tegak dengan tiang-tiang yang perkasa
yang hitam. The Character Building
University.UNIMED.
Nada
berjalan dengan sumringah menatap sudut demi sudut pohon yang kekar. Dari
kejauhan, terlihat banyak orang berjalan terburu-buru seakan mengejar gaji
bulanan, atau mengejar bantuan dari Pemerintah. Nada dengan santai berjalan
dengan pasti, ia sengaja berjalan pelan, agar pelosok-pelosok kampus baru nya
bisa ia kenali.
“Assalamu’alaikum..
adik..” sapa seseorang di belakang Nada.
“Wa’alaikum
salam, ehh kakak, kakak siapa? Tanya Nada heran.
“Kak
Nisa dik, adik Nada kan? Tanya nya lembut sambil menyalami Nada.
“Ia
kak, kita pernah jumpa waktu Nada daftar ulang kan kak?” lanjut Nada.
“Ia
dik,” jawab nya sambil tersenyum.
Wajah
nya teduh, senyumnya juga manis, sentuhan nya lembut, nada bicara nya terarah,
sepertinya dia memiliki paradigma yang unik. Dan unik untuk ditelusuri dan penelusuran
akan dimulai sekarang.
Angin
mencoba menggoda Nada, suara kehangatan pada pelosok hatinya mancuak ekstrim.
Sebagai hari perdana menjadi mahasiswa.
Nada dan kak Nisa yang kebetulan satu jurusan berjalan bersama menuju fakultas
tercinta.
Jadi,
saat Nada daftar ulang, kak Nisa yang menjadi pewawancara nya. Nada seperti di
introgasi, seperti nara sumber gitu diangggap oleh Kak Nisa. Karena Nada masuk
di Jurusan PKn, jadi Kak Nisa bertanya tentang rumpun PKn. Mulai dari
perkembangan hukum Indonesia sampai perilaku politik warga Negara juga pejabat
negara.
Saat
itu, Nada sangat bingung menjawabnya, karena Nada tidak menyukai politik, Nada
juga berasal dari jurusan IPA sewaktu SMA. Jadi, Nada hanya bisa menjawab yang
pernah ia lihat TV.
“Politik
adalah cara seorang pejabat mengelabui massyarakat” jawab Nada.
Kak
Nisa tersenyum dan berkata, “Politik itu cara seeorang untuk memperbaiki
kehidupan, yang tujuannya agar lebih baik lagi, misalnya saja, ketika
berperang, Rasulullah punya strategi perang kan, nah strategi itu disebut
politk, tepatnya politik dalam perang”.
“Jadi
gimana, sudah mengerti adik?” lanjutnya.
Nada
tersenyum dan mengangguk.
“Ya
sudah, ini isi dulu”. Kata Kak Nisa sambil memberi buku dengan kolom-kolom yang
harus diisi.
“Adik
kenapa milih jurusan PKn?”
“Ia
kak, sedikit terpaksa”. Jawab ku, sambil bercanda.
Kak
Nisa hanya tersenyum.”Jadi iklas tidak belajar di PKn?”
“Iklas
kak InsyaAllah..” jawab Nada mengerutu.
***
Sekarang
Nada dan Kak Nisa tiba di depan pintu besar jurusan. Kak membantu Nada mencari
kelas, 38.13 tertulis pada roster Nada. Kak Nisa langsung mengantar Nada di
ruang kelas bernomor itu.
“Ini
dik kelasnya, kakak pamit ya, mau nyari kelas juga”
“Ia
kak, terima kasih ya kak..”
Kak
Nisa hanya tersenyum lagi, lalu berjalan menuju kelas nya. Nada masih berdiri
di depan pintu, memperhatikan Kak Nisa yang hamper tak tampak, alunan jilbab
nya masih terlihat, hijau muda dengan bunga merah pada bagian belakang jilbab
nya.
“Maaf
mbak, ini kelas 38.13 gak?”. Suara itu melenyapkan lamunan Nada akan Kak Nisa.
“Eehh,
ia mbak. Mbak juga mahasiswa baru?” Tanya Nada.
“Ia
mbak, nama mbak siapa, kita duduk sama yokk” ajak perempuan itu.
“Nama
ku Nada, nama kamu?”
“Aku
Tisa” jawabnya sambil mengulurkan tangan nya.
Sejak
perkenalan itu, kami sering berdua kemana-mana. Tisa adalah teman yang baik,
ia juga sering membantu ku membuat
makalah dan mengerjakan tugas lainnya. Tisa pernah bilang pada Nada, “berteman itu untuk memberi, bukan diberi”.
Nada beruntung memiliki teman seperti Tisaa.
Seiring
waktu berjalan, Nada mulai mengenal keputrian,
dan sepertinya ia mulai nyaman dalam lingkaran itu. Kakak–kakak di keputrian
sangat ramah, menarik, dan memiliki paradigma yang tak jauh berbeda dengan Kak
Nisa. Aku juga sering mengajak Tisa, namun Tisa sering menolak dengan banyak
alasan. Hanya sekali saat itu Tisa berkenan hadir dalam acara fakultas ini.
Yang
semula Nada kira organisasi, ternyata di balik itu ada tugas besar yang
diemban, yaitu dakwah. Ia, dakwah. Sungguh berat tugas itu, berada di pundak,
kadang penat, kadang risau dengan tugas kuliah, kadang letih namun tak boleh
bosan.
Terkadang
Nada harus lari-lari mengejar jam syuro’ yang harus dihadiri, lalu pulang
hingga petang. Hingga dirumah Nada tak sempat membantu Ibu memasak dan
menjemput adik. Sehingga terkadang wajah ibu terlihat sebel pada Nada. Nada
juga sering merasa keluarganya menjauh, adik-adik tak pernah bercerita tentang
sekolah dan teman-temannya lagi, Ibu juga jarang bercerita tentang kenakalan
adik-adik pada Nada. Terkadang rumah seperti gua asing, yang terdengar gaungan
nya namun tak dikenali, seperti orang asing yang sedang numpang tidur, atau
bahkan hanya seonggok daging yang bergerak namun tak bernyawa.
Suatu
ketika, ibu bertanya pada Nada tentang penampilan Nada yang berdeda seperti
biasa. Jilbab Nada lebih rapi dan baju nya juga mulai longgar.
“Kenapa
seperti itu jilbab nya nak?”
“Ia
bu, biar lehernya tidak terlihat, tambah cantik kan anak Ibu…” canda Nada.
Ibu
hanya tersenyum, lalu berlalu meninggalkan Nada. Sepertinya Ibu tidak marah
terhadap penampilan barunya. “Semoga Ibu tidak marah” kata Nada dalam hati.
Nada senyum senyum sendiri melihat gambar dirinya dalam cermin, berbingkai
jilbab. “Istiqomah terus ya adik kakak”, suara itu mengiang dalam ruang pikiran
Nada. Kak Nisa sering sekali berkata itu pada Nada, Kak Nisa juga yang mengajak
Nada belajar dalam dekapan ini. Dan ini
adalah tahap awal Nada belajar dakwah, bahwa dakwah itu penting. Dakwah itu
asyik dan dakwah itu belajar.
Prestasi
di kelas, setelah bergabung dalam dekapan ini, Nada ssedikit lebih berani
berargumen, sedikit gemar membaca, dan sedikit lebih membulatkan tekad.
Sekarang Nada tak mau menyiakan waktu luang nya, ya walaupun sekarang Tisa
sedikit menjauh darinya. Namun, Tisa masih memberi perhatian pada Nada, Tisa
sering mengingatkan makan siang dan mengingat kan shalat.
“Da,
Tisa boleh Tanya?” kata Tisa sembari berbisik.
“Boleh,
Tisa mau Tanya apa? Tanya aja sa…”.
“Nada
kenapa sekarang berubah? Jarang maen sama Tisa lagi, kita juga sekarang jarang
diskusi, terus jilbab Nada kenapa?”
Nada
tersenyum, “ Nada gak berubah kok, tapi maaf ya akhir-akhir ini Nada agak
jarang bareng Tisa, masalah jilbab, ini supaya leher nya gak menerawang sa”.
“Oh
ia ya da, leher Tisa kelihatan da?”
“Ia
sa, double aja jilbab nya sa”
“Emang
bisa da? Ajarin Tisa ya..”
“Ia
sa pasti. Besok Nada singgah ke kos Tisa ya”
“Ia
da, makasih ya. Yok kita masuk kelas” sambil memegang tangan Nada.
Keheningan
beberapa hari yang lalu kini memudar, Nada senang sekali karena sahabat nya
bisa mengerti. Tisa itu pintar, namun dia masih polos, sehingga terkadang ada
teman yang usil padanya. Tak jarang dia juga menangis. Dan saat itulah Nada
beraksi sebagai jagoan, hahahah Nada 008 beraksi.
Satu
pukulan terhempas pada bagian punggung lelaki-lelaki dekil itu. Para lelaki di
kelas tak ada yang berani dengan Nada, karena Nada waktu SMA adalah anggota
silat, jadi masih tertanam jiwa keperkasaan nya. (hhe, acem betol aja).
Mata
perangai dalam balutan sukma nurani ternyata lebih nyata dibanding beraksi
namun tak jelas. Daun-daun pohon saga berserakan, menutupi tanah kering yang
berpenghuni, marajut tepi demi tepi ketegaran asa, hingga ia terlihat nyata
walau dengan mata tertutup. Gairah untuk tetap disini mengajak berpergian ke
dermaga syahdu, mengajak rehat sejenak karena lelah.
Kak
Nisa selalu bilang, “Jika kita lelah, ucapkan takbir dalam hati, jika masih
lelah, ucapkan lagi dan lagi, hingga lelah itu pergi dalam diri kita, hingga
semangat itu hadir dalam diri kita, hingga kaki kita bisa beranjak pergi untuk
melanjutkan kewajiban ini. Ayo semangat adik kakak”. ALLAHU AKBAR…
Semangat
Nada akan terus membakar jiwanya, namun ketika dirumah, ketika ia tatap wajah
keluarganya, itu pergi, semnagat itu sekan berubah menjadi
sebab kerenggangan ini. Saat dirumah,
Nada hanya bisa diam dengan teguran-teguran itu, yang mempojokkan dirinya.
“Ayah,
Ibu kenapa? Ibu gak sayang sama Nada sekarang ya yah?”
“Tidak
begitu, ajak saja Ibu bicara, dia hanya ingin kau perhatian padanya seperti dulu,
sabar ya nak” kata Ayah sambil mengelus kepala Nada.
“Ia
ayah, terima kasih ya yah”.
“Ia
nak, sudah lah belajar sana” kata lelaki paruh baya itu.
Nada
langsung beranjak dari kursi, lalu melaju pada ruang berwarna hijau muda dengan
hiasan boneka ulat warna warni. Semnagat sang ulat seakan tak mampu
ter-transfer pada memori Nada, badannya terasa lemah, dan sangat lelah.
Esoknya
ketika Nada bangun tidur, terasa kepalanya berat sekali dan matanya sukar di
buka, badannya kaku seakan tak bergerak. Dan ketika matanya bisa di buka,
terlihat suster di samping nya sedang membenarkan infus Nada.
“Ibu…”
katanya peluh.
“Adik
sudah sedar? Sebentar saya panggilkan Ibu nya ya” kata suster itu.
Suster
itu langsung beranjak keluar dan memanggil Ibu. Tak lama kemudian Ibu dan ayah
masuk menemui Nada.
“Nak,
apa nya yang sakit?” kata ibu.
Nada
hanya diam dan memandangi wajah Ibu yang terlihat sangat khawatir akan dirinya,
Nada hanya menggelengkan kepalanya.
“Nada
tidur aja ya, biar Ibu kusuk biar gak capek lagi,” kata wanita itu dengan nada
cemas nya.
“Nada
eeeng gak capek bu” kata Nada peluh. Kosakata yang ia ucapkan belum sempurna,
massih terbata-bata. Seakan lidahnya masih kaku digerakkan. Seharian ia tidur
tanpa reaksi apapun, sehingga membuat keluarga nya khawatir. Ibu mengusuk
tangan Nada dengan lembut, sambil mengusap keringat di dahinya, sesekali
mengusap kepala Nada dengan kasih sayang.
Sebenarnya
Ibu tak pernah marah pada Nada, apalagi sampai tak sayang Nada lagi, hanya saja
Ibu terlalu khawatir dengan kondisi Nada yang sekarang sudah sangat padat dan
melampaui kegiatan Ayah dan Ibu.
“Ibu,
jangan beri tau Tisa ya bu” kata Nada.
“Ia
nak, ibu hanya memberi tahu dosen mu saja, dan izin bahwa Nada beberapa hari
ini tidak bisa masuk” kata Ibu.
“Terima
kasih ya bu”
Beberapa
hari Nada di rumah sakit, rasanya bosan dan terkekang banget. Makan di suapin,
ke kamar mandi dianterin, tidak nyaman sangat.
Rasa
rindu pada alunan kerudung Kak Nisa, pada manjaan Tisa, dan dekapan itu. Terasa
hilang semua terbawa angin yang mengalun keras. Merampas sejenak aktivitas Nada
yang menjadi kebutuhannya, menunaikan kewajiban itu, dan merdiskusi dengan
onggokan-onggokan sukma yang luar biasa.
Hari
ini, Nada keluar dari rumah sakit. Suasana fisik nya sudah membaik, berikut
dengan keadaan psikis yang sudah sangat rindu akan dekapan itu. “Jika, tidak
bersama dakwah, maka kita dengan siapa lagi?”
Itu
alasan mengapa Nada ingin terus berada dalam dekapan itu, bergandeng bersama
mengemban amanah dalam dekapan ukhuwah. Ukhuwah yang sejati.
Begitu
sampai dirumah, perkataan ibu mengagetkan Nada, pikirannya melayang seakan
dunia berputar hebat dengan kekuatan ekstra.
“Nada
jangan pakai jilbab yang seperti itu lagi ya nak, Nada juga tidak di izinkan
pulang petang lagi”.
“Kenapa
bu???”
“Ibu
tidak mau Nada sakit lagi, Nada terlalu sibuk dengan urusan kampus, sampai
sampai melupakan kesehatan sendiri”.
“Tidak
bu, Nada janji tidak akan sakit lagi, asalkan Nada diizinkan pakai jilbab
sseperti biasa dan tetap mengikuti kegiatan kampus bu, ya bu ya, Nada janji akan
jaga kesehatan bu, Ibuuu…” kata Nada sambil memegang tangan Ibu.
“Keputusan
Ibu sudah bulat, tidak bisa ditawar-tawar lagi”.
Lalu
Ibu pergi meninggalkan Nada dikamar sendirian.
Isak
tangis tak tertahan kan lagi, seakan dirinya seperti beku tak mampu bernafas
dengan tenang, pikirannya melayang, menyapu angan di balik tirai merah muda
itu, membalikkan asa keras yang dulu merasukinya. Kini perasaan itu muncul,
takut.
Langsung
ia arhkan tangan pada buffet kecil lalu mengambil hp yang telah lama ia
tingglkan. Banyak panggilan tidak terjawab dan pesan masuk dari Tisa, Kak Nisa
dan bberapa teman yang lain. Ia arakhan pada nama Kak Nisa, Nada sudah tak
tahan, ingin segera berbincng dengan Kak Nisa, ingin segera menangis di pundak
nya.
Tuuuuuuuuuuuuuutttttttttttttttttttt…………..
Tak
ada jawaban dari Kak Nisa. Nada ingat akan pesan Kkak Nisa, “mengadu pada Allah
dan selalu istiqomah”. Tanpa pikir panjang Nada langsung berwudhu dan
melaksanakan shalat isya. Air matanya terus mengalir, “Allah, kenapa sekarang
seperti ini, maaf kan Nadda jika selama ini Nada terlalu futur, terlalu terlena
akan keindahan dunia, terlalu sok sibuk sehingga melupakan tugas dirumah, tapi
Allah tolong jangan buat Ibu seperti ini. Nada sedih, Allah Nada gak mau jauh dari
Allah, Nada sayang Allah”.
Tanpa
sedar, ia pun tertidur dengan mukenah yang masih ia kenakan. Dalam tidur nya
ada sekerlip mimpi, dalam mimpi itu, Nada bisa berteman dengan angin, Nada
diajak berkeliling oleh angin, Nada juga diajak ke pantai dengan pasir putih
dan tupukan krikil dan pecahan karang.
Beberapa
jam tertidur, Nada pun tersentak bangun karena teringat akan beban pikiran yang
ia hadapi sekarang. Hatinya sedikit agak tenang dan terkontrol.
Pagi
ini, Nada tetap mengenakan jilbab seperti biasa, walau ia tahu Ibu akan
melarangnya, atau mungkin akan menggatikan jilbab Nada. Belum lagi, jika Nada
nanti hendak pergi, pasti Ibu akan berkata jangan pulang petang dan jika sudah
selesai kuliah langsung pulang.
Sudahlah,
ini bukan masalah. Ini harus Nada hadapi, dan InsyaAllah ini benar.
Nada
beranikan untuk keluar kamar. Dan menuju meja makan untuk sarapan. Dan ternyata
benar, Ibu menampakkan wajah kesalnya pada Nada.
“Kenapa
tidak nurut kata-kata Ibu? Sudah tidak mau dengar kata Ibu lagi?” kata Ibu dengan
suara pertanda peluh.
“Ibu
kok gitu bicaranya? Nada dengar kata Ibu, tapi bu maaf untuk yang ini Nada tidak bisa bu. Ibu jangan marah
sama Nada ya”. Kata Nada setenah mengiba.
Ibu
menggelengkan lalu beranjak dari tempat itu. Angin kembali mengajak Nada dalam
keheningan, walau mentari baru beranjak dari tempat istirahatnya namun seakan
ia mulai letih lagi. Air mata Nada turun lagi, “Allah, kenapa ini terjadi pada
ku?” Tanya nya dalam hati.
Seketika
itu, suara hp Nada terdengar, pertanda ada pesan masuk,
Asslamu’alaikum dik,
Bagaimna keadaan _y? ingat lah,
jalan dkwah tidak semulus jlan tol, terkadang ada duri yg hrus qt hadapi
dijalan itu, penat & lelah. Adik k3 yg kuat ya…
Tntangan pst ad dik,
Keep istiqomah, innalaha ma’ana.
Itu
pesan dari Kak Nisa. Kakak kesayangan Nada, kakak yang sering menemani Nada
walau tanpa sosok nyata nya. Sholehatunnisa,
itu namanya.
Setelah
sarapan, langsung Nada pamitan pada Ibu. Ibu hanya mengangguk dan tak berkenan
menerima salam Nada. Nada kembali
tersedih, bibirnya mancung kedepan, namun harus tetap seperti ulat, tegar dalam
proses yang harus dijalani hingga ia mampu terbang dengan sayap nya sendiri.
Sampai
suatu ketika, kemarahan Ibu mencuak, hingga Nada sangat ketakutan. Secara
refleks Nada melarikan diri dari rumah. Dan tujuana Nada adalah kost Kak Nisa.
Nada menagis se nangis-nangisnya. Dan Kak Nisa tanpa bosan untuk menenagkan
adiknya itu.
“Sabar
ya dik, Allah tidak akan menguji kita diluar batas kemampuan kita dik, adik
mendapat ini karena Allah tau, adik bisa dan kuat”, Kak nisa sembari memeluk
Nada.
Ketika
itu juga, Ibu Nada datang dan menyuruh nya pulang dengan memaksa dan menarik
tangan Nada.
“Tidak
bu, Nada tidak mau” kata nya sambil terisak-isak.
Nada
pun menuju pintu dan keluar mencoba untuk lari. Begitu juga Ibu yang terus
mengejar Nada.ketika sampai di ujung jalan, Nada tak melihat ada kendaraan yang
melaju begitu kencang, hingga akhirnya ia terseungkur, tertabrak dan berlumuran
darah.
“Anakk…
ku” kata Ibu.
Nada
sudah tidak bergerak lagi. Mata nya terpejam dan tangan nya menggemgam sebuah
kertas putih kecil. Gengggaman itu terbuka, di kertas itu tertulis, “Ibu, aku menyayangimu karena Allah”.
Ibu
sangat menyesal, selalu meyalahkan diri sendiri akan hal itu. Jika ia tak egois
dan mengizinkan anak nya berada dalam jalan koridor ini.
Sekarang
Nada telah tidur tenang, tapi apakah berarti jalan dakwah ini sampai disini???.