Thursday, March 10, 2016

PADA DEKAPAN-NYA

Langkah awal pada lembayung fajar terbenam sudah, menata kenangan pada ujung rok abu-abu. Sekarang ia telipat rapi dalam lemari, yang mungkin takan di sentuh oleh Nada. H-1 menuju gerbang kampus impian. Jika kau tahu helaian daun yang gugur, ingat lah pada hujan yang menguyur, rentangkan tangan, lalu terbang, lalu menari, sampai kau lelah, hingga kau terbangun dari tidur malam itu.
“Nadaa…” panggil ibu dari balik pintu kayu kamar yang hampir rapuh.
Karena ibu tak mendengar sahutan Nada, jadi ibu mengulang panggilannya, Nada pun tersentak bangun karena mendengar suara Ibu.
“Ia ibu, Nada sudah bangun..”
“Ayo Sholat Subuh dulu nak..”
“Ia ibu…”
Air terasa beku, dinginnya merangkak hingga ubun-ubun Nada, karena hujan malam tadi. Jemari-jemari mungilnya keriput, tanda ia kedinginan. Air wudhu masih melekat pada bulu-bulu tangan nya, membuka mata kantuknya.
Nada sudah niat, ba’da shalat ia akan mengerjakan tugas harian, membuat sarapan. Dua raka’at sebelum Shubuh, lalu dilanjutkan dengan Shalat Fardu Subuh. Semangat pagi Nada membara dengan riang. Nanti, puluk 07.00 ia akan melajukan sepeda motor nya menuju kampus berkarakter.
Masa terindah mungkin akan dimulai, dengan arakan semangat dan lembayung pulau-pulau pengabdian dan kepercayaan, esok akan dipikul beban dengan kuota maksimal. Harapan keluarga pada Nada.
Kini gerbang itu tampak di depan mata, berdiri tegak dengan tiang-tiang yang perkasa yang hitam. The Character Building University.UNIMED.
Nada berjalan dengan sumringah menatap sudut demi sudut pohon yang kekar. Dari kejauhan, terlihat banyak orang berjalan terburu-buru seakan mengejar gaji bulanan, atau mengejar bantuan dari Pemerintah. Nada dengan santai berjalan dengan pasti, ia sengaja berjalan pelan, agar pelosok-pelosok kampus baru nya bisa ia kenali.
“Assalamu’alaikum.. adik..” sapa seseorang di belakang Nada.
“Wa’alaikum salam, ehh kakak, kakak siapa? Tanya Nada heran.
“Kak Nisa dik, adik Nada kan? Tanya nya lembut sambil menyalami Nada.
“Ia kak, kita pernah jumpa waktu Nada daftar ulang kan kak?” lanjut Nada.
“Ia dik,” jawab nya sambil tersenyum.
Wajah nya teduh, senyumnya juga manis, sentuhan nya lembut, nada bicara nya terarah, sepertinya dia memiliki paradigma yang unik. Dan unik untuk ditelusuri dan penelusuran akan dimulai sekarang.
Angin mencoba menggoda Nada, suara kehangatan pada pelosok hatinya mancuak ekstrim. Sebagai hari perdana menjadi mahasiswa. Nada dan kak Nisa yang kebetulan satu jurusan berjalan bersama menuju fakultas tercinta.
Jadi, saat Nada daftar ulang, kak Nisa yang menjadi pewawancara nya. Nada seperti di introgasi, seperti nara sumber gitu diangggap oleh Kak Nisa. Karena Nada masuk di Jurusan PKn, jadi Kak Nisa bertanya tentang rumpun PKn. Mulai dari perkembangan hukum Indonesia sampai perilaku politik warga Negara juga pejabat negara.
Saat itu, Nada sangat bingung menjawabnya, karena Nada tidak menyukai politik, Nada juga berasal dari jurusan IPA sewaktu SMA. Jadi, Nada hanya bisa menjawab yang pernah ia lihat TV.
“Politik adalah cara seorang pejabat mengelabui massyarakat” jawab Nada.
Kak Nisa tersenyum dan berkata, “Politik itu cara seeorang untuk memperbaiki kehidupan, yang tujuannya agar lebih baik lagi, misalnya saja, ketika berperang, Rasulullah punya strategi perang kan, nah strategi itu disebut politk, tepatnya politik dalam perang”.
“Jadi gimana, sudah mengerti adik?” lanjutnya.
Nada tersenyum dan mengangguk.
“Ya sudah, ini isi dulu”. Kata Kak Nisa sambil memberi buku dengan kolom-kolom yang harus diisi.
“Adik kenapa milih jurusan PKn?”
“Ia kak, sedikit terpaksa”. Jawab ku, sambil bercanda.
Kak Nisa hanya tersenyum.”Jadi iklas tidak belajar di PKn?”
“Iklas kak InsyaAllah..” jawab Nada mengerutu.
***

Sekarang Nada dan Kak Nisa tiba di depan pintu besar jurusan. Kak membantu Nada mencari kelas, 38.13 tertulis pada roster Nada. Kak Nisa langsung mengantar Nada di ruang kelas bernomor itu.
“Ini dik kelasnya, kakak pamit ya, mau nyari kelas juga”
“Ia kak, terima kasih ya kak..”
Kak Nisa hanya tersenyum lagi, lalu berjalan menuju kelas nya. Nada masih berdiri di depan pintu, memperhatikan Kak Nisa yang hamper tak tampak, alunan jilbab nya masih terlihat, hijau muda dengan bunga merah pada bagian belakang jilbab nya.
“Maaf mbak, ini kelas 38.13 gak?”. Suara itu melenyapkan lamunan Nada akan Kak Nisa.
“Eehh, ia mbak. Mbak juga mahasiswa baru?” Tanya Nada.
“Ia mbak, nama mbak siapa, kita duduk sama yokk” ajak perempuan itu.
“Nama ku Nada, nama kamu?”
“Aku Tisa” jawabnya sambil mengulurkan tangan nya.
Sejak perkenalan itu, kami sering berdua kemana-mana. Tisa adalah teman yang baik, ia  juga sering membantu ku membuat makalah dan mengerjakan tugas lainnya. Tisa pernah bilang pada Nada, “berteman itu untuk memberi, bukan diberi”. Nada beruntung memiliki teman seperti Tisaa.
Seiring waktu berjalan, Nada mulai mengenal keputrian, dan sepertinya ia mulai nyaman dalam lingkaran itu. Kakak–kakak di keputrian sangat ramah, menarik, dan memiliki paradigma yang tak jauh berbeda dengan Kak Nisa. Aku juga sering mengajak Tisa, namun Tisa sering menolak dengan banyak alasan. Hanya sekali saat itu Tisa berkenan hadir dalam acara fakultas ini.
Yang semula Nada kira organisasi, ternyata di balik itu ada tugas besar yang diemban, yaitu dakwah. Ia, dakwah. Sungguh berat tugas itu, berada di pundak, kadang penat, kadang risau dengan tugas kuliah, kadang letih namun tak boleh bosan.
Terkadang Nada harus lari-lari mengejar jam syuro’ yang harus dihadiri, lalu pulang hingga petang. Hingga dirumah Nada tak sempat membantu Ibu memasak dan menjemput adik. Sehingga terkadang wajah ibu terlihat sebel pada Nada. Nada juga sering merasa keluarganya menjauh, adik-adik tak pernah bercerita tentang sekolah dan teman-temannya lagi, Ibu juga jarang bercerita tentang kenakalan adik-adik pada Nada. Terkadang rumah seperti gua asing, yang terdengar gaungan nya namun tak dikenali, seperti orang asing yang sedang numpang tidur, atau bahkan hanya seonggok daging yang bergerak namun tak bernyawa.
Suatu ketika, ibu bertanya pada Nada tentang penampilan Nada yang berdeda seperti biasa. Jilbab Nada lebih rapi dan baju nya juga mulai longgar.
“Kenapa seperti itu jilbab nya nak?”
“Ia bu, biar lehernya tidak terlihat, tambah cantik kan anak Ibu…” canda Nada.
Ibu hanya tersenyum, lalu berlalu meninggalkan Nada. Sepertinya Ibu tidak marah terhadap penampilan barunya. “Semoga Ibu tidak marah” kata Nada dalam hati. Nada senyum senyum sendiri melihat gambar dirinya dalam cermin, berbingkai jilbab. “Istiqomah terus ya adik kakak”, suara itu mengiang dalam ruang pikiran Nada. Kak Nisa sering sekali berkata itu pada Nada, Kak Nisa juga yang mengajak Nada  belajar dalam dekapan ini. Dan ini adalah tahap awal Nada belajar dakwah, bahwa dakwah itu penting. Dakwah itu asyik dan dakwah itu belajar.
Prestasi di kelas, setelah bergabung dalam dekapan ini, Nada ssedikit lebih berani berargumen, sedikit gemar membaca, dan sedikit lebih membulatkan tekad. Sekarang Nada tak mau menyiakan waktu luang nya, ya walaupun sekarang Tisa sedikit menjauh darinya. Namun, Tisa masih memberi perhatian pada Nada, Tisa sering mengingatkan makan siang dan mengingat kan shalat.
“Da, Tisa boleh Tanya?” kata Tisa sembari berbisik.
“Boleh, Tisa mau Tanya apa? Tanya aja sa…”.
“Nada kenapa sekarang berubah? Jarang maen sama Tisa lagi, kita juga sekarang jarang diskusi, terus jilbab Nada kenapa?”
Nada tersenyum, “ Nada gak berubah kok, tapi maaf ya akhir-akhir ini Nada agak jarang bareng Tisa, masalah jilbab, ini supaya leher nya gak menerawang sa”.
“Oh ia ya da, leher Tisa kelihatan da?”
“Ia sa, double aja jilbab nya sa”
“Emang bisa da? Ajarin Tisa ya..”
“Ia sa pasti. Besok Nada singgah ke kos Tisa ya”
“Ia da, makasih ya. Yok kita masuk kelas” sambil memegang tangan Nada.
Keheningan beberapa hari yang lalu kini memudar, Nada senang sekali karena sahabat nya bisa mengerti. Tisa itu pintar, namun dia masih polos, sehingga terkadang ada teman yang usil padanya. Tak jarang dia juga menangis. Dan saat itulah Nada beraksi sebagai jagoan, hahahah Nada 008 beraksi.
Satu pukulan terhempas pada bagian punggung lelaki-lelaki dekil itu. Para lelaki di kelas tak ada yang berani dengan Nada, karena Nada waktu SMA adalah anggota silat, jadi masih tertanam jiwa keperkasaan nya. (hhe, acem betol aja).
Mata perangai dalam balutan sukma nurani ternyata lebih nyata dibanding beraksi namun tak jelas. Daun-daun pohon saga berserakan, menutupi tanah kering yang berpenghuni, marajut tepi demi tepi ketegaran asa, hingga ia terlihat nyata walau dengan mata tertutup. Gairah untuk tetap disini mengajak berpergian ke dermaga syahdu, mengajak rehat sejenak karena lelah.
Kak Nisa selalu bilang, “Jika kita lelah, ucapkan takbir dalam hati, jika masih lelah, ucapkan lagi dan lagi, hingga lelah itu pergi dalam diri kita, hingga semangat itu hadir dalam diri kita, hingga kaki kita bisa beranjak pergi untuk melanjutkan kewajiban ini. Ayo semangat adik kakak”. ALLAHU AKBAR…
Semangat Nada akan terus membakar jiwanya, namun ketika dirumah, ketika ia tatap wajah keluarganya,   itu pergi, semnagat itu sekan berubah menjadi sebab kerenggangan ini.  Saat dirumah, Nada hanya bisa diam dengan teguran-teguran itu, yang mempojokkan dirinya.
“Ayah, Ibu kenapa? Ibu gak sayang sama Nada sekarang ya yah?”
“Tidak begitu, ajak saja Ibu bicara, dia hanya ingin kau perhatian padanya seperti dulu, sabar ya nak” kata Ayah sambil mengelus kepala Nada.
“Ia ayah, terima kasih ya yah”.
“Ia nak, sudah lah belajar sana” kata lelaki paruh baya itu.
Nada langsung beranjak dari kursi, lalu melaju pada ruang berwarna hijau muda dengan hiasan boneka ulat warna warni. Semnagat sang ulat seakan tak mampu ter-transfer pada memori Nada, badannya terasa lemah, dan sangat lelah.
Esoknya ketika Nada bangun tidur, terasa kepalanya berat sekali dan matanya sukar di buka, badannya kaku seakan tak bergerak. Dan ketika matanya bisa di buka, terlihat suster di samping nya sedang membenarkan infus Nada.
“Ibu…” katanya peluh.
“Adik sudah sedar? Sebentar saya panggilkan Ibu nya ya” kata suster itu.
Suster itu langsung beranjak keluar dan memanggil Ibu. Tak lama kemudian Ibu dan ayah masuk menemui Nada.
“Nak, apa nya yang sakit?” kata ibu.
Nada hanya diam dan memandangi wajah Ibu yang terlihat sangat khawatir akan dirinya, Nada hanya menggelengkan kepalanya.
“Nada tidur aja ya, biar Ibu kusuk biar gak capek lagi,” kata wanita itu dengan nada cemas nya.
“Nada eeeng gak capek bu” kata Nada peluh. Kosakata yang ia ucapkan belum sempurna, massih terbata-bata. Seakan lidahnya masih kaku digerakkan. Seharian ia tidur tanpa reaksi apapun, sehingga membuat keluarga nya khawatir. Ibu mengusuk tangan Nada dengan lembut, sambil mengusap keringat di dahinya, sesekali mengusap kepala Nada dengan kasih sayang.
Sebenarnya Ibu tak pernah marah pada Nada, apalagi sampai tak sayang Nada lagi, hanya saja Ibu terlalu khawatir dengan kondisi Nada yang sekarang sudah sangat padat dan melampaui kegiatan Ayah dan Ibu.
“Ibu, jangan beri tau Tisa ya bu” kata Nada.
“Ia nak, ibu hanya memberi tahu dosen mu saja, dan izin bahwa Nada beberapa hari ini tidak bisa masuk” kata Ibu.
“Terima kasih ya bu”
Beberapa hari Nada di rumah sakit, rasanya bosan dan terkekang banget. Makan di suapin, ke kamar mandi dianterin, tidak nyaman sangat.
Rasa rindu pada alunan kerudung Kak Nisa, pada manjaan Tisa, dan dekapan itu. Terasa hilang semua terbawa angin yang mengalun keras. Merampas sejenak aktivitas Nada yang menjadi kebutuhannya, menunaikan kewajiban itu, dan merdiskusi dengan onggokan-onggokan sukma yang luar biasa.
Hari ini, Nada keluar dari rumah sakit. Suasana fisik nya sudah membaik, berikut dengan keadaan psikis yang sudah sangat rindu akan dekapan itu. “Jika, tidak bersama dakwah, maka kita dengan siapa lagi?”
Itu alasan mengapa Nada ingin terus berada dalam dekapan itu, bergandeng bersama mengemban amanah dalam dekapan ukhuwah. Ukhuwah yang sejati.
Begitu sampai dirumah, perkataan ibu mengagetkan Nada, pikirannya melayang seakan dunia berputar hebat dengan kekuatan ekstra.
“Nada jangan pakai jilbab yang seperti itu lagi ya nak, Nada juga tidak di izinkan pulang petang lagi”.
“Kenapa bu???”
“Ibu tidak mau Nada sakit lagi, Nada terlalu sibuk dengan urusan kampus, sampai sampai melupakan  kesehatan sendiri”.
“Tidak bu, Nada janji tidak akan sakit lagi, asalkan Nada diizinkan pakai jilbab sseperti biasa dan tetap mengikuti kegiatan kampus bu, ya bu ya, Nada janji akan jaga kesehatan bu, Ibuuu…” kata Nada sambil memegang tangan Ibu.
“Keputusan Ibu sudah bulat, tidak bisa ditawar-tawar lagi”.
Lalu Ibu pergi meninggalkan Nada dikamar sendirian.
Isak tangis tak tertahan kan lagi, seakan dirinya seperti beku tak mampu bernafas dengan tenang, pikirannya melayang, menyapu angan di balik tirai merah muda itu, membalikkan asa keras yang dulu merasukinya. Kini perasaan itu muncul, takut.
Langsung ia arhkan tangan pada buffet kecil lalu mengambil hp yang telah lama ia tingglkan. Banyak panggilan tidak terjawab dan pesan masuk dari Tisa, Kak Nisa dan bberapa teman yang lain. Ia arakhan pada nama Kak Nisa, Nada sudah tak tahan, ingin segera berbincng dengan Kak Nisa, ingin segera menangis di pundak nya.
Tuuuuuuuuuuuuuutttttttttttttttttttt…………..
Tak ada jawaban dari Kak Nisa. Nada ingat akan pesan Kkak Nisa, “mengadu pada Allah dan selalu istiqomah”. Tanpa pikir panjang Nada langsung berwudhu dan melaksanakan shalat isya. Air matanya terus mengalir, “Allah, kenapa sekarang seperti ini, maaf kan Nadda jika selama ini Nada terlalu futur, terlalu terlena akan keindahan dunia, terlalu sok sibuk sehingga melupakan tugas dirumah, tapi Allah tolong jangan buat Ibu seperti ini. Nada sedih, Allah Nada gak mau jauh dari Allah, Nada sayang Allah”.
Tanpa sedar, ia pun tertidur dengan mukenah yang masih ia kenakan. Dalam tidur nya ada sekerlip mimpi, dalam mimpi itu, Nada bisa berteman dengan angin, Nada diajak berkeliling oleh angin, Nada juga diajak ke pantai dengan pasir putih dan tupukan krikil dan pecahan karang.
Beberapa jam tertidur, Nada pun tersentak bangun karena teringat akan beban pikiran yang ia hadapi sekarang. Hatinya sedikit agak tenang dan terkontrol.
Pagi ini, Nada tetap mengenakan jilbab seperti biasa, walau ia tahu Ibu akan melarangnya, atau mungkin akan menggatikan jilbab Nada. Belum lagi, jika Nada nanti hendak pergi, pasti Ibu akan berkata jangan pulang petang dan jika sudah selesai kuliah langsung pulang.
Sudahlah, ini bukan masalah. Ini harus Nada hadapi, dan InsyaAllah ini benar.
Nada beranikan untuk keluar kamar. Dan menuju meja makan untuk sarapan. Dan ternyata benar, Ibu menampakkan wajah kesalnya pada Nada.
“Kenapa tidak nurut kata-kata Ibu? Sudah tidak mau dengar kata Ibu lagi?” kata Ibu dengan suara pertanda peluh.
“Ibu kok gitu bicaranya? Nada dengar kata Ibu, tapi bu maaf  untuk yang ini Nada tidak bisa bu. Ibu jangan marah sama Nada ya”. Kata Nada setenah mengiba.
Ibu menggelengkan lalu beranjak dari tempat itu. Angin kembali mengajak Nada dalam keheningan, walau mentari baru beranjak dari tempat istirahatnya namun seakan ia mulai letih lagi. Air mata Nada turun lagi, “Allah, kenapa ini terjadi pada ku?” Tanya nya dalam hati.
Seketika itu, suara hp Nada terdengar, pertanda ada pesan masuk,
Asslamu’alaikum dik,
Bagaimna keadaan _y? ingat lah, jalan dkwah tidak semulus jlan tol, terkadang ada duri yg hrus qt hadapi dijalan itu, penat & lelah. Adik k3 yg kuat ya…
Tntangan pst ad dik,
Keep istiqomah, innalaha ma’ana.
Itu pesan dari Kak Nisa. Kakak kesayangan Nada, kakak yang sering menemani Nada walau tanpa sosok nyata nya. Sholehatunnisa, itu namanya.
Setelah sarapan, langsung Nada pamitan pada Ibu. Ibu hanya mengangguk dan tak berkenan menerima salam  Nada. Nada kembali tersedih, bibirnya mancung kedepan, namun harus tetap seperti ulat, tegar dalam proses yang harus dijalani hingga ia mampu terbang dengan sayap nya sendiri.
Sampai suatu ketika, kemarahan Ibu mencuak, hingga Nada sangat ketakutan. Secara refleks Nada melarikan diri dari rumah. Dan tujuana Nada adalah kost Kak Nisa. Nada menagis se nangis-nangisnya. Dan Kak Nisa tanpa bosan untuk menenagkan adiknya itu.
“Sabar ya dik, Allah tidak akan menguji kita diluar batas kemampuan kita dik, adik mendapat ini karena Allah tau, adik bisa dan kuat”, Kak nisa sembari memeluk Nada.
Ketika itu juga, Ibu Nada datang dan menyuruh nya pulang dengan memaksa dan menarik tangan Nada.
“Tidak bu, Nada tidak mau” kata nya sambil terisak-isak.
Nada pun menuju pintu dan keluar mencoba untuk lari. Begitu juga Ibu yang terus mengejar Nada.ketika sampai di ujung jalan, Nada tak melihat ada kendaraan yang melaju begitu kencang, hingga akhirnya ia terseungkur, tertabrak dan berlumuran darah.
“Anakk… ku” kata Ibu.
Nada sudah tidak bergerak lagi. Mata nya terpejam dan tangan nya menggemgam sebuah kertas putih kecil. Gengggaman itu terbuka, di kertas itu tertulis, “Ibu, aku menyayangimu karena Allah”.
Ibu sangat menyesal, selalu meyalahkan diri sendiri akan hal itu. Jika ia tak egois dan mengizinkan anak nya berada dalam jalan koridor ini.
Sekarang Nada telah tidur tenang, tapi apakah berarti jalan dakwah ini sampai disini???.

Hari ini,                                                                          
Daun terakhir pohon pinus gugur
Menutupi gerak ulat dibawahnya
Mencengkeran tanah dengan kerasnya
Hari ini,
Asa letih terbayar sudah
Merayap pada sukma sang pujangga
Kini ia merangkai sajak bunga rampai akhir
Esok, akan ada tamu
Melihat si ulat yang tertidur
Ia beranjak pada proses
Menjadi kepompong
Mungkin lusa akan terbang
Walau pada dunia yang lain
Dekapan ini terpampang rapi dalam tiap selaput-selaput darahnya
Menggulung kelemahan karena bosan
Kini, ia masih kepompong.                                           
Nada setia dalam dekapan ini.
Walau irama itu terdengar pilu
Dan menyesallan

                                                                                                                                MEDAN, 15 Maret 2013

No comments:

Post a Comment