Anak-anak
bernaung pada atap dan menjadi tanggung jawab para pendidik, beranjak membentuk identitas dan
menjadi wajah tempat
ia bernaung, wadah itu kita sebut sekolah. Yang menjadi tempat bermain dan
lading tanam membentuk jati diri. Mulai dari memilih bibit, memilih jenis
tanah, hingga proses tanam lalu perjalanan tumbuh dan mengakar. Lalu kita, guru
hanya mengarahkan dan menjadi taulan. Kita pilihkan bibit terbaik, yang akan menjadi dasar tindak tanduknya,
menjadi penentu arah tumbuhnya, menjadi darah nafasnya. Bibit itulah AL-QUR’AN.
Allah Swt
berfirman “ini adalah sebuah kitab yang
kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan supaya mereka memperhatikan
ayat-ayatnya, dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran”
Q.S As Shad:29).
Perjalanan
benar akan dimulai, merauk keatas menembus tanah, perlahan menentukan arah,
mencari cahaya mentari, ringkih mencari pegangan. Pun anak-anak, beranjak
tumbuh dengan bakatnya masing-masing, berjalan dengan arah dan memiliki
gawangnya, hingga mereka nanti kan senja dan menua. Lalu apa yang tetap sama? Benihnya,
Al-Qur’an.
Yang senantiasa
menjadi tuntunan arah perjalanan dan pilihan, yang harapannya, ketika mereka
menjadi orang hebat tetap bernafaskan Al-Qur’an, dalam darahnya mengalir
kekuatan Al-Qur’an, dan mencintai Tuhannya lebih dari apapun, percaya pada
Nabinya lebih dari dari apapun, berjuang membela agamanya sekuat daya dan
upayanya.
Kelak, tika
kita semua sampai pada Yaumul Hisab, seorang anak dipersaksikan, tentang segala
amal perbuatannya. Lalu bibir dan tangannya bersaksi, bahwa ketika disekolah,
seorang guru telah mengajarkan Al-Qur’an padanya, yang dengan ilmu itu
diajarkan lagi kepada anak-anaknya. Ketika ditanya oleh malaikat tentang siapa
gurunya, maka bibir anak itu menyebut nama gurunya, menyebut nama gurunya,
menyebut namamu, menyebut nama kita “Ustadz/ah Fulan”.
Apalagi yang
bisa memperberat timbangan kita, persaksiakn anak-anak itu yang InsyaAllah,
persaksian bibirnya yang senantiasa diajarkan mengucap nama Allah dan membaca
kitab cinta Nya. Mereka yang akan bersaksi bahwa kita sudah benar member benih.
Sebab benih itu, akan senantiasa menjadi petunjuk hidupnya, harta pusaka
warisan Rasulullah untuk umat-umatnya.
Rasulullah
bersabda “Sebaik-baik dari kalian adalah yang mau belajar Al-Qur’an dan mau
mengamalkannya”
Titah Tuhan
mengantarkan kita pada titik ini, dipilihkan amanah ini, menjadi oenebar benih
yang menjadi dasar perjalanan panjang mereka, Wallahua’lam …
-Lentera Kecil feat MasFana-

No comments:
Post a Comment