Monday, December 1, 2014

BERAKHIR SIMFONI




Senduan nada hitam
Berkecamuk menyandera kalbu
Sekarang pekat karena malu
Tingkah laku menggores perilaku

Kini pena menulis sajak rindu
Dengan tinta yang hampir pilu
Terngiang jabatan itu
Damai rasanya menyejuk kalbu

Aku pena itu
Dia tinta itu
Bersatu menjadi simfoni untuk ayah ibu

Tuesday, September 30, 2014

HADIAH NABIL




Semua mata tertuju pada ku, yang sedang berdiri diatas panggung ternama, panggung itu ku sebut ternama karena sebelumnya aku belum pernah berdiri seperti ini dan dalam posisi sekarang. Aku hampir mimpi, beberapa kali aku cubit tangan ku. Aku menang dalam lomba menulis cerpen bertema kepahlawanan. Tak pernah ku sangka sebelumnya, kembali aku berfikir bahwa ini hanya mimpi.
Aku juga mendapat hadiah yang yang lebih dari cukup. Sebuah ipad, uang tunai, piala, piagam, dan tiga buah novel yang ingin ku miliki sebelumnya, karya Ahmad Fuadi.
Ibu yang berdiri disebelahku terlihat berkaca-kaca, mungkin ia terharu melihat anak nya yang nakal kini bisa sedikit membanggakannya. Piala ini ku hadiahkan untuk ayah, yang seminggu lagi berulang tahun. Mudah-mudahan ayah suka.
Bertahun-tahun ku coba mengirimkan puisi dan cerpen ku ke beberapa perlombaan dan surat kabar, tapi belum pernah ku lihat nama ku terdaftar di goresan nama pemenang. Bahkan kekecewaan sudah kebal bagi ku. Ada seorang teman yang terus membongkar dan memperbaharui semangat ku, namanya Nabil, ya Muhammad Nabil. Hampir sama seperti nama ku, Ananda Nabil. Teman-teman sering memanggil kami Duo Nabil.
Walau aku dan dia berbeda, aku suka fiksi dan dia lebih suka non fiksi. Tak jarang kami saling memuji satu sama lain, bahkan saling mengejek.
“Tulisan apaan kayak gitu, bahasa perut buncit semua,,” ejek ku pada nya.
“Yee, sewot bro,,,! Timbang bahasa planet gitu,,,” balasnya.
Hampir setiap hari, artikel nya mampang di lembaran surat kabar. Bukan hanya itu saja, bahkan ada beberapa penerbit yang menawarkan kerja sama dengan nya.. Tapi dia menolak, katanya ia belum pantas menjadi penulis yang dikenal banyak orang. Padahal menurutku, mutu nya sudah kelas atas. Itu yang ku suka dari nya, pintar dan tidak meninggi.
Aku dan Nabil satu kelas, bahkan sering duduk berdekatan. Nabil adalah teman yang baik, tidak pelit, supel, dan bersahabat. Dia juga pintar menempatkan diri, hanya saja ketampanan nya kalah dengan ku.(heheheh)
Kembali aku berteman dengan note book  ku, malam ini aku sampaikan pada bintang kabar rumah yang telah menampung ku selama 19 tahun. Rumah yang menjadi tempat mengabdi ku kelak. Rumah yang hijau, dengan hutan yang menjadi andalan dunia untuk mereka bernafas. Rumah yang saat ini berperut buncit, ramai tikus-tikus nakal dengan kebijakan irrasional. Rumah yang katanya merakyat, tapi terkadang biadab. Nama nya Indonesia. Tanah air tercinta ku yang tak kan ku lupa. Hingga aku hanya ingin terkubur di dalamnya sebagai gundukan tanah yang punya cerita.
 Aku dan Nabil tampil bersama untuk mengguncang dunia dengan pena, hanya bermodal pena dan tinta. Malam itu, angin terasa kaku, menusuk enggan namun menyakitkan tulang dan sendi. Aku dan Nabil melintasi jalanan malam dengan lampu-lampu centil, main mata seakan menggoda. Raja bulan dan prajurit-prajurit nya menyaksikan kami terengah-engah menyusuri jalan.
“Bray, aku harus pulang minggu depan” cetus nya.
Aku hanya diam setengah kaget, sebenarnya sudah biasa ia mengatakan itu, dan baru seminggu lalu ia pulang kampung, biasanya ia pulang satu bulan sekali.
“Kenapa? Tapi baru seminggu lalu pulang?” Tanya ku.
“Ia, aku memang harus pulang. Dan aku tak yakin akan menulis lagi”.
Aku kaget setengah mati, menulis yang telah menyelamatkan ekonomi nya di perantauan ditinngalkannya. Aku tahu, ia suka menulis, dan ia juga sangat berbakat.
“Kenapa? Karena takut saingan dengan aku?” Tanya ku bercanda.
Dia melihatku sambil mencoba mengeluarkan senyum terindah nya. Pikiran ku kembali terbang terbawa angin malam. Ku biarkan ia pergi sejenak, dan akan kutunggu sampai ia kembali.
“Kau sudah bosan berteman dengan ku?” Tanya ku heran, dengan alis terangkat.
“Tidak, bahkan aku sangat senang berteman dengan mu Nan. Aku harus membantu Nenek ku mengurusi ladang dan sawah. Mungkin aku juga akan berhenti kuliah untuk sementara waktu” terang nya.
“Apa-apaan kau ni. Sudah jangan bercanda. Tak lucu bercanda mu” kata ku. Kekagetan ku mencuat lagi. Kali ini mencapai titik puncak.
Air mata nya terlihat hampir keluar. Aku lari meninggalkannya sendirian.
“Nan, kemana kau?” teriak nya.
Aku berbalik dan menganggkat tangan. Tanda aku tak percaya semua perkataannya. Aku kembali ke kost ku yang jauh dari tempat kost nya. Ku baringkan tubuh lelah ku.
Sepertiga malam biasanya hp  ku selalu berdering, aku dan Nabil punya agenda bangunin dijam ini. Dan malam ini gilirannya. Aku bangun tanpa deringan itu. Ku coba untuk membangunkannya, dan ternyata tak di respon oleh nya.
“Allah, ada apa dengan kawan ku? Dia terlihat aneh dan menjengkelkan. Semoga ia selalu baik-baik saja”.
Sebelum berangkat kuliah, ku sempatkan menjemputnya. Namun ternyata kamarnya kosong.
“Nabil sudah pergi Nan” kata teman Nabil.
“Oh, ok makasih ya. Aku duluan ya” jawab ku.
Dia mengangkat tangan seakan mengiyakan perkataan ku.
Jam kuliah akan segera dimulai, tapi hidung Nabil tak terlihat, celotehannya tak terdengar, apalagi wujud nya, tak terasa adanya. Banyak teman-teman bertanya pada ku tentang Nabil, “aku juga tidak tahu dia kemana, mungkin dia terlambat” hanya itu yang aku jawab.
Hari-hari berjalan tanpa Nabil di kelas, aku sering sendirian mencari objek tulisan. Ke sungai sendirian, ke jalanan sendirian, kemana-mana sendirian.
Nabil juga hampir setiap hari Adzan di masjid kampus, dan sekarang tak ada lagi. Dan aku yang harus menggantikannya. Yaa walaupun tak semerdu suara Nabil. Keheranan masih mengelayuti pikiran dan perasaan ku. Hujan deras terasa biasa, angin seakan tak bersahabat lagi, lampu jalan pun tak istimewa.
“Dimana kau?” jerit ku dalam hati.
Mungkin aku yang dulu terlalu bergantung pada nya, hingga ketika saat dia tiada, aku merasa hampa dan ksosong. Layaknya kertas kosong di campakkan dari atas gedung, lembek, hanya mampu mengikuti angin.
Hari ini genap dua bulan aku sendiri tanpa nya. Sekarang angin terasa kawan, hujan terasa riang laksana embun di rerumputan, ngarai sungai anggun memanggil, dan lampu malam terasa asyik. Yang terpenting, harapan ku tak kandas hanya diatas rerumputan dan tumbukan daun kering.
Minggu depan akan ku cari dimana Nabil, akan ku datangi kampung nya yang jauh di sudut hutan. Hanya untuk bertanya, untuk apa dia melakukan ini semua? Dan kemana janjinya dengan ku yang akan bersama-sama memampangkan nama dalam daftar penulis muda dunia.
Setiap hari aku memikirkannya, bertanya pada diri sendiri apakah ada salah ku padanya? Hingga asa itu merajuk dalam pelukan malam. Bagai botol yang hanyut di tengah samudera, sendiri, sepi dan berharap bintang mengangkatnya kelangit. Desaran ombak samudera menggelayuti tulang belulang, hingga remuk tampa utuh, tinggal serpihan-serpihan kecil yang tersisa, dan itu yang kini ada pada ku.
Bermodal kenangan, dan piagam kemenangan artikel pertama ku, aku beranikan kaki melangkah sendiri, mencari yang dulu ku kira ia adalah pasangan tongkatku kelak. Yang hingga kini, harapan yang masih sama, satu frame dengan beribu kata dari nya.
Berjubal-jubal dengan manusia-manusia asing dalam bis usang, meniup asap rokok yang busuk, hingga mencium muntahan yang membuat mual.
“Ini yang Nabil rasakan dua minggu sekali dulu? Sungguh menyiksa. Tapi kenapa ia mau pulang sesering itu ya? Dasar Nabil” pikir ku dalam hati.
Dalam bis, tidur ku tak nyenyak, mendengar ocehan tetangga, bau busuk muntahan, hingga polusi udara bis yang memusingkan kepala. “Bis beginian masih di pertahan kan, udah di museum kan aja” jerit ku, tapi dalam hati. Belum lagi sudah over capacity, bagaimana mau selamat sampai ke tujuan, wong keselamatan, dan kenyamanan saja tidak diutamakan.
Akhirnya setelah 4 jam menahan kan nafas, aku bisa menghirup udara segar, aku sampai di kampung Nabil, Selamat Datang di Siantar.  Beberapa orang ku Tanya rumah Nabil, tapi tak ada yang tahu, sayangnya aku tak tahu nama nenek nya atau nama orang tua nya. Berjam-jam aku berjalan, puluhan petak sawah terbentang hijau sudah ku susuri, tapi satu orang pun tak mengenal Nabil.
Ku lihat di ujung jalan ku buntu, harus kemana lagi mencari mu Nabil. Ada dan tidak adanya kau selalu menjengkelkan. Gerutu ku dalam hati. Berulang ku lap keringat yang bercucran.
“Anannn…., itu kau Nan?” didepan sana ada suara memanggil nama ku. Apa itu Nabil, pikir ku. Aku mempercepat laju kaki ku, siapa tahu itu memang Nabil.
“Anan, mau kemana kau?”
“Nabill… ya ampun akhir nya Allah masih menyayangiku” kata ku sambil ku peluk tubuh nya.
“Apa-apaan kau ini, lepas kan aku. Geli aku kau peluk” canda nya.
“Dasar kau ini, menjengkelkan sekali jadi orang. Kau ngapain Bil?” Tanya ku.
“Seharusnya aku bertanya, apa yang kau lakukan disini?” Tanya nya heran.
“Aku hanya mencari seonggok daging yang hilang dalam hari-hari ku beberapa bulan ini. Kata orang-orang ia ada disini”.
“Leh leh leh, gaya mu. Eh tapi makin mantap saja kata-kata mu” puji nya.
“Ah, berlebihan kau Bil”.
“Aku tadi mau merumput ladang nenek ku, tapi ayok lah ku ajak kau ke gubuk ku” ajak nya.
Sampai nya disana, ada tetangga Nabil yang menyapanya.
“Lho Fiz, tadi baru berangkat, eneng leng ora kegowo yo?” Tanya uwak itu.
“Ora wak, iki eneng konco ku, mau nemu nang dalan” jawab nya sopan.
“Apa Bil, nemu? Emang nya aku hilang apa?” kata ku pada nya.
Nabil hanya tersenyum lalu mengajakku masuk kedalam rumahnya. Rumahnya sederhana, tak ada barang-barang yang terlihat mewah, neneknya terlihat di dalam kamar sedang tiduran.
“Itu nenek mu Bil?” Tanya ku sambil menunjuk kearah wanita renta itu.
“Ia, itu nenek ku. Dia sakit Nan, sudah tidak bisa berjalan lagi” jelas nya.
“Ini alasan nya kau lakukan semua ini?” Tanya ku.
“Ini hanya satu alasan dari banyak alasannya” jelasnya.
“Banyak alasan?” Tanya ku.
“Ia” jawab nya singkat.
Aku mencoba tidak bertanya tentang keadaanya lagi, ku alihkan pertanyaan ku.
“Eh Bil, Uwak yang tadi kenapa manggil kamu Fiz. Setau ku nama mu Muhammad Nabil, dimana letak Fiz nya” Tanya ku heran sambil bercanda.
Dia hanya tertawa, dan mengangkat bahu nya.
“Eh, jelas kan dulupada ku. Kau juga tidak terkenal ya disini? Dari depan sampai belakang sana tak ada yang kenal dengan yang namanya Nabil. Ahh Nabil payah, di kampus saja terkenal nya, di kampung nya malah tidak” celoteh ku.
“Eh jangan asal bicara kau ini”.
“Lah terus apa namanya?  Makanya kau jelaskan dulu pada ku” Tanya ku sambil meneguk air putih yang disediakan Nabil.
“Nanti ku ceritakan semua nya, istirahat dulu kau disini. Aku ke ladang dulu ya. Kalau kau mau tidur disana ya, dikamar ku saja” jelas nya sambil menunjuk ruang kecil yang tertutup tirai biru.
“Aku ikut saja lah Bil, nanti nenek mu kaget melihat makhluk ganteng seperti ku” canda ku.
“Sudah dirumah saja, nenek ku sudah tak jelas pandangan nya, jika melihat wajah mu pun, sudah tek jelas lagi”.
“Baiklah, jangan lama-lama ya Bil” kata ku pada nya.
Aku duduk di teras rumah nya, dan kebetulan ada uwak yang tadi menyapa Nabil.
“Nak, konco ne Hafiz yo?” Tanya nya.
“Hafiz siapa wak? Aku konco ne Nabil” jawab ku heran
“Hafiz leng mau, memang jenenge Nabil, tapi wong kene podo panggil Hafiz” terang nya.
“Lho nak opo wak?”Tanya ku heran lagi.
“Hafiz tu penghafal Qur’an disini, dan beberapa bulan ini setelah ia tak kuliah lagi, ia terlihat lebih rajin ke masjid” jelas uwak itu. Mungkin ia tahu bahwa bahasa jawa ku masih terbata-bata.
“Oh, jadi ini alasan Nabil” kata ku dalam hati. “Tapi kenapa harus sampai berhenti kuliah ya wak?” mencoba mencari informasi dari uwak ini.
“Mungkin saja ia ingin merawat neneknya yang sudah tua. Setelah beberapa bulan lalu, ibu nya Nabil meninggal, dan keluarga yang masih ia miliki adalah neneknya”. Jelas uwak.
Aku terdiam dalam waktu yang cukup lama, membayangi wajah Nabil yang sekarang tengah tersengat mentari, bermandi keringat. Tak lama setelah lamunan itu Nabil pulang, dan menceritakan alasan nya.
“Nan, hanya itu yang bisa ku lakukan untuk kedua orang tua ku. Dari aku kecil, aku sudah tidak punya ayah. Dan baru saja ibu ku juga pergi. Belum ada yang ku lakukan untuk mereka. Hanya mahkota dan jubah kemulian yang ingin ku berikan sekarang Nan”. Kata Nabil sambil mengelap air mata yang hampir jatuh dari mata nya.
Aku hanya bisa mengelus pundak nya. Aku juga sebenarnya ingin memeluknya.tapi dia anti dipeluk. Aku menyayangimu karena Allah Bil.

                                                                                       Medan, 23 August 2013

Saturday, November 2, 2013

SAHABAT ANGIN



Angin merambat perlahan diatas dedaunan yang berserakan ditanah, hampir saja benda kesayangan ku yang tadi sore ku tinggalkan tak hanyut terbawa angin. Sore tadi aku dan adik-adik ku bermain boneka barbie dibawah pohon besar itu, kami tertawa riang, berlarian, menari, gokil deh…
Malam ini angin juga enggan bersahabat dengan ku, aku dibuatnya kedinginan, hampir menggigil, dan tak karuan rasanya. Sehingga aku dan keluarga ku harus tidur lebih awal. Suasana dingin ini ternyata ingin membuat kemarahanku membeludak. Karena dingin ini, aku dan adik-adik ku tak bermain bersama lagi di bawah pohon itu, karena ibu bilang hari akan hujan dan ibu bilang jika kami bermain hujan, kami akan sakit.
Lima hari berturut-turut angin dingin itu menyinggahi kampung ku. Terang saja, kampung ku dekat sekali dengan pantai. Pantai di kampung ku indaaah sekali, dan belum banyak dijamah oleh para pelancong. Pasir nya putih, air pantai nya biru, banyak sekali terumbu karang nya, jika dilihat dari atas, terumbu karang nya bisa diterawang dan hampir terlihat jelas. Koral-koral juga banyak hidup berdampingan, dan satu lagi makhluk laut favorit ku dan adik-adik, ikan buntal. Dan yang paling penting, warga kampung ku bisa menjaga kebersihan pantai. (heheheheh).
Selain pohon itu, pantai adalah tempat favorit ku bermain. Jika di pantai, tentu saja kami tak bermain boneka barbie, kami membuat istana pasir yang tak karuan bentuknya. Kak Juna selalu kami ajak jika kami hendak membuat istana pasir, karena Kak Juna adalah sang ahli membuat istana pasir. Pernah ketika ada lomba membuat istana pasir di kampung ku, Kak Juna adalah lawan terberat bagi seluruh peserta. Dan acapkali, Kak Juna adalah pemenangnya.
Kak Juna adalah kakak tertua kami, dan aku tertua kedua. Di rumah yang sering disebut Panti Asuhan ini, kami hidup bersama. Ada Ibu, Kak Juna, Aku, Adik-adik, Bibi, dan beberapa ekor ayam peliharaan kami.
Ibu bilang, delapan belas tahun lalu, seorang nenek mengantar ku kerumah kami, saat itu aku baru beberapa jam lahir, tubuhku masih merah, dan tali pusar ku juga belum terlepas. Aku menangis tiada henti. Nenek itu bilang, wanita yang melahirkan ku telah meninggal, sesaat setelah aku lahir dan suami dari wanita yang melahirkan ku juga telah meninggal, hanya tinggal nenek itu seorang. Tapi, nenek itu tak bisa merawatku, karena saat itu sedang terjadi pencarian keluarga para anggota PKI (Partai Komunis Indonesia), ayah ku adalah salah satu anggota PKI. Nenek itu takut jika aku ditangkap bersama nya, sehingga ia terpaksa memberikan aku pada Ibu.
Ibu juga bilang, aku tak usah mencari keluarga ku, karena mereka semua telah tiada. Ibu juga bilang, keluarga ku adalah mereka.
Aku mengetahui cerita itu, ketika umur ku hampir 17 tahun. Awalnya aku sangat terkejut dan merasa kalut, dilema dan galau. Tapi Ibu bilang, aku tak sendiri, selalu ada Allah dan ada mereka disamping ku.
“Ra…..” suara ibu memanggil ku.
“Ia bu, sebentar lagii…” jawab ku singkat.
Sore itu, aku mengajak adik-adik bermain di pantai tanpa Kak Juna, sehingga ibu sedikit lebih khawatir dan menyuruh kami cepat pulang.
“Dik, ayoo kita pulang, ibu sudah manggil..” ajak ku pada mereka.
“Sebentar lagi kak” bantah Ais manja.
“Ayoo lah, nanti ibu marah sama kakak, besok kita main lagi, kita main sama Kak Juna” ajak ku tanpa putus asa.
“Apa kak? Kak Juna? Besok kita main sama Kak Juna?” jawab Kiki penasaran. Karena Kak Juna sedang keluar kota untuk mengurus S2 nya.
“Ia, besok Kak Juna pulang, ayoo kita pulang” ajak ku lagi.
Mereka pun akhirnya terhipnotis juga dengan ajakan ku. Aku dan adik-adik pulang dengan pasir berserakan di wajah, baju dan tubuh kami. Tapi, bukan bermain di pantai jika tak pulang dengan oleh-oleh pasir.
Tiba nya dirumah, kami harus mandi. Lalu berpakaian rapi dan siap mengaji. Jika ibu berhalangan, Kak Juna yang biasa mengajar kami mengaji, tapi jika tak ada Kak Juna, aku deh yang harus mengajar mereka.
Mereka bilang, suara ku lebih merdu dibanding Kak Juna jika mengaji, jadi mereka lebih suka mengaji dengan ku dibanding dengan Ibu dan Kak Juna. (hehehehe, GR).

*******************

Jam hape ku berada pada 04:09 pagi. Aku tersentak bangun, lalu berniat Tahajjud. Aku bergerak perlahan agar adik-adik ku tidak terbangun. Tangan jam dinding kamar ku tak henti berputar, detik demi detik ia lalui melewati angka-angka yang bermakna itu. Hingga waktu Shubuh tiba. Adzan berkumandang dari beranda Mesjid dekat rumah kami, satu per satu adik-adik ku mulai terbangun dengan wajah yang masih terlihat ngantuk, mulut mereka masih menguap lebar. Lepas shalat Shubuh, kami berolahraga bersama, berjalan keliling kampung.
“Beberapa jam lagi, Kak Juna pulang, horeeee” teriak Ais pada kami.
Ia terlihat sangat bahagia karena Kak Juna akan pulang hari ini. Begitu juga dengan adik-adik lain, Ibu dan juga Bibi. Tentu saja aku tak kalah bahagianya.
Pagi ini, angin sangat bersahabat dengan ku. Ku titip kan salam rindu pada angin untuk disampaikan pada kakak kesayangan ku, Kak Juna. Bait demi bait salam rindu itu tersimpan dengan rapi di folder perasaan ku dan keluarga ku. Beberapa bulan Kak Juna pergi, sudah  terasa sangat lama sekali.
“Kak Juna, aku kangen” kata ku dalam hati.
Teriakan itu terdengar dari teras rumah kami, “assalamu’alaikum, ibuuuu”
Suara itu tak terdengar asing lagi ditelinga kami, itu suara Kak Juna, kakak kesayangan ku dan adik-adik. Kak Juna langsung peluk Ibu dan Bibi, lalu menghampiri kami. Kak Juna memeluk satu per satu adik-adik. Lalu beralih ke arah ku, ia memberi ku tangan nya untuk ku cium. Kak Juna bilang, aku sudah besar, jadi tak boleh aku di peluk. Kakak kesayangan ku itu tak banyak berubah, hanya saja ia kelihatan sedikit hitam dan kurusan. Tak lama setelah itu, Kak Juna mengajak kami bercerita.
“Waktu kakak di Surabaya, kakak berjumpa dengan  orang banyaaak sekali, kakak juga dapat teman yang sangat baik, dia mengajak kakak makan, membeli buku juga kakak diperbolehkan tidur dirumahnya” cerita Kak Juna panjang.
Adik-adik terlihat sangat antusias mendengar cerita kakak. Berbagai pertanyaan aneh mereka tanyakan, dan kakak juga tak kalah aneh nya menjawab pertanyaan mereka. Ibu benar, ini adalah keluarga ku, yaa mereka adalah keluarga ku. Mereka yang harus ku jaga dan harus ku bahagiakan.
“Dek Ra… “ suara Kak Juna memanggil ku.
“Ia kak, sebentar, aku lagi nyuci piring” jawab ku.
Setelah semua piring ku cuci, aku langsung menuju lokasi dimana kakak berada. Ternyata kakak mengajak ku ke pantai, namun tanpa adik-adik.
Ombak-ombak kecil yang mencoba merayu angin terlihat sangat manja, atau mungkin ia sedang tebar pesona pada burung-burung pantai. Sore itu, angin terasa sejuk sekali, dan sore itu hanya ada aku dan kakak di pantai. Aku juga tak tahu mengapa tak ada warga lain yang berada dipantai sore itu.
“Kak, kenapa tak ajak adik-adik?” tanya ku.
“Tak apa, biarlah mereka bermain sendiri” jawabnya singkat. Tapi ku pikir bukan itu alasan kakak yang sebenarnya mengapa tak ajak mereka. “masih suka angin kan dik?” tanya nya pada ku. “Tentu saja, angin masih menjadi sahabat ku, dan mungkin hanya angin yang akan selalu menemani ku kak” jawab ku dengan helaan nafas yang menarik angin ke dalam hirupan nafasku.
Sebelumnya tak pernah hanya ada aku dan Kak Juna di pantai, dan aku merasa sedikit heran dengan suasana kala itu, namun ku coba tepis kan saja pikiran ku itu. Kak Juna hanya diam sembari memandangi langit sambil merebahkan badan di atas pasir pantai putih sambil mengangkat tangan nya seakan ia menggambar sesuatu.
“Kakak sedang apa?” tanya ku heran.
“Kakak mencoba menggambar wajah mu” jawabnya dengan senyuman.
“Ahhh kakak ada-ada saja” lanjutku malu-malu.
Kak Juna diam lagi, kali ini terlihat matanya menahan air mata. Ku pandang wajah kakak ku itu dengan seksama. Seperti ada yang ingin ia utarakan pada ku.
“Kau tau, kakak sangat sayang pada keluarga kita, kakak tak ingin kehilangan kalian” kata Kak Juna sambil menghapus air mata yang tak mampu ia tahan.
“Kakak kenapa nangis? Kakak rindu sama kami? Kami juga rindu dengan kakak dan kami juga gak akan meninggalkan kakak sendiri, kan kita keluarga kak” kata ku mencoba untuk menenangkan perasaan nya.
Angin berhembus dengan lembut, mungkin hanya Tuhan dan angin yang bisa tahu apa yang sedang dirasakan kakak ku saat itu. Suasana yang hening di temani air pantai yang bening, dan kebeningan air pantai sebentar lagi akan menjadi cermin matahari. Tanda ia sebentar lagi akan tenggelam.
“Dik, apa kau tahu cinta?” tanya nya.
“Tentu saja, angin yang Tuhan berikan pada kita, itu cinta. Kasih yang Ibu berikan itu juga cinta. Dan semua hal yang kita lakukan pada adik-adik itu juga cinta.” Jawabku luas.
“Lalu kita?” tanya nya lagi.
“Maksud kakak? Aku tak mengerti apa maksud kakak?” jawabku dengan wajah yang sedikit jelek.
“Aku tahu, kau sayang pada adik-adik, dari dulu hingga sekarang kau selalu membantu Ibu dan menemani adik-adik. Tapi, kenapa kau tak memikirkan dirimu sendiri?” terang kakak.
“Tidak begitu kak, tentu saja aku memikirkan diri ku sendiri. Aku akan tetap lanjut kuliah, walau Ibu bilang ia tak bisa membiayai ku”. Paparanku pada kakak yang saat itu sangat aneh.
“Bukan itu maksud kakak. Soal itu kakak yakin kau akan terus lanjut belajar sampai kapan pun. Kakak tak tahu, perasaan apa ini, tapi sayang kakak pada mu berbeda dengan sayang kakak pada adik-adik kakak yang lain. Tapi sudahlah jangan kau pikirkan, biar kakak saja yang mencari tahu” jelas kakak pada ku.
Kami pun beranjak untuk kembali kerumah, karena sepertinya sang surya sudah letih menerangi kami siang tadi, ia pun seakan ingin istirahat dulu. Diperjalan pulang, kakak hanya diam, dan jika ku tanya sesuatu ia hanya menjawab seadanya.
Suasana Shubuh ini, terasa seperti biasa, dingin. Shalat Shubuh berjamaah pun akan di mulai, suara iqomah Kiki telah terdengar.
“Anak-anak ayoo cepat” terdengar suara Bibi memanggil kami yang sangat susah bangun tidur. “Ia biikkk” sahut Dinda.
Shalat Shubuh ini, Kak Juna yang menjadi imam. Aku masih bingung pada sikap Kak Juna kemarin sore. Aku juga tak mampu menebak apa maksud Kak Juna. Sungguh aneh kakak ku itu.
Siang ini, Kak Juna mengajak ku ke bawah pohon besar itu, tempat favorit kami bermain, bersama adik-adik. Aku juga merasakan getar-getir keanehan pada ajakannya kali ini. Dan anehnya lagi, suasana sangat sunyi, tak ada suara teriakan adik-adik, karena Dinda dan Ais masih sekolah, sementara Kiki. Bagas, Endut dan Puput sedang tidur siang.
Kami duduk diatas serakan daun yang gugur, gugur karena sentuhan angin. Atau mungkin karena kemarahan angin. Tapi, angin jarang marah pada ku, hanya saat itu saja.
“Kakak sayang pada mu dik, tapi tak sayang seperti adik-adik yang lain” Kak Juna memulai kata-kata yang membingungkan ku.
Aku hanya diam, mencoba memahami kata-kata Kak Juna.
“Angin tak butuh teman untuk mengampiri ombak, yang angin butuhkan hanya Tuhan” lanjut Kak Juna.
“Aku tak boleh bersahabat dengan angin?” tanya ku heran.
“Kakak tak bicara begitu” jawabnya singkat.
“Lalu apa maksud kakak? Kakak bilang angin tak butuh teman, apa aku teman yang merepotkannya kak?” kata ku sewot.
“Kau marah pada kakak?” tanya nya. Seakan ia takut jika aku marah.
“Tidak, aku hanya tak mengerti apa maksud kakak?” jawab ku kembali sewot.
Kak Juna menghela nafas dalam-dalam, lalu berkata “kakak cinta pada mu, tapi tak seperti cinta kakak pada adik-adik. Kakak mau kau menjadi istri kakak kelak”.
Aku melongo, aku kaget, seakan aku melayang dibawa angin yang melesat ke dunia ikan buntal. Lalu aku berlari meninggalkannya pergi. Arah tujuan ku, tak lain adalah pantai.
“Angin, apa yang harus ku katakan pada Kak Juna? Aku juga sangat menyayanginya, tapi aku tak tahu, sayang ku ini sama seperti dia pada ku atau tidak”.
Beberapa minggu, aku dan Kak Juna terlihat berbeda. Ibu, Bibi, dan adik-adik juga merasakan hal yang sama. Dan mengundang banyak pertanyaan mengapa kami berbeda
“Kak Juna sama Kak Chira marah-marahan ya?” tanya Endut.
“Tidak dik, mungkin Kak Juna lagi sariawan jadi malas bicara dengan kakak” jawab ku.
“Tapi, bicara sama aku dan yang lain mau kak?” tanya nya lagi.
“Mungkin, waktu bicara sama kalian sariawan nya Kak Juna lagi gak sakit” terang ku.
“Oohh gitu ya kak! Memang nya bisa gitu ya kak?” Tanya nya lagi, seakan ia tak puas akan jawaban ku.
“Ia. Sudahlah, kakak dan Kak Juna tak apa-apa” terang ku lagi.
Dua hari lagi Kak Juna akan pergi ke luar kota untuk mengurus mendaftar di kampus yang telah memberikan beasiswa padanya.
“Nanti setelah kakak lulus dan mendapatkan pekerjaan yang baik, kakak akan melamar mu dik. Ini bukan janji, tapi harapan kakak”. Isi surat yang kakak tulis untuk ku.

Kau bilang
Kau sahabat angin
Aku bilang
Angin tak butuh teman
Lalu kau marah
Jangan terlalu percaya pada angin
Percaya lah hanya pada Allah
Serpihan mozaik rindu akan ku titipkan pada angin
Karena ku tahu, angin akan jujur padamu
Adik ku…

                                                                                                            (Kamis, 31 Januari 2013)